Dampak Dolar Naik ke Jambi
Nasib Perajin Tempe di Jambi Terlihat 15 Hari Lagi, Dolar AS Tembus Rp18 Ribu
Di Kota Jambi, perajin tempe bersiap-siap menghadapi lonjakan harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama.
Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: asto s
TRIBUN JAMBI.COM, JAMBI - Kenaikan nilai tukar Dolar Amerika Serikat hingga menyentuh Rp18 ribu, mulai menekan pelaku usaha kecil di sektor pangan rakyat, Kamis (4/6/2026).
Di Kota Jambi, perajin tempe bersiap-siap menghadapi lonjakan harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama.
Fauzan Mahbub, perajin tempe di Jalan Fatahillah, RT 23, Kelurahan Rajawali, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi, menuturkan ketergantungan penuh pelaku UMKM terhadap kedelai impor menjadi alasan utama perajin tempe sangat rentan terhadap fluktuasi dolar AS.
"Seluruh bahan baku tempe yang digunakan perajin berasal dari kedelai impor Amerika Latin (Amerika Selatan), bukan dari produksi dalam negeri. Belinya pakai dolar (AS). Jadi, kalau dolar naik, perajin tempe kena," ujarnya kepada Tribun Jambi.
Pria yang memiliki nama sapaan Pakde Fauzan itu menuturkan tidak ada bahan baku kedelai lokal yang digunakannya.
"Bahan baku tempe itu 100 persen kedelai impor dari Amerika Latin. Tidak ada kedelai lokal. Produksi dalam negeri tidak mencukupi. Pemerintah pernah mencoba swasembada, tapi memang tidak berhasil"
Fauzah Mahbub
Pakde Fauzan menuturkan kenaikan dolar AS secara langsung memicu naiknya harga kedelai dari kisaran Rp11 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram. Kondisi itu bisa memicu kenaikan harga 10-20 persen per kilogram.
Padahal, ujarnya, sejak Agustus 2025 lalu, harga kedelai sudah terus merangkak naik.
"Agustus lalu (2025) itu harga kedelai masih sekitar Rp9 ribuan per kilogram. Sekarang sudah di angka Rp12 ribu. Kalau dihitung dari situ sampai Juni 2026, kenaikannya bisa 60 persen," ujarnya.
Terlihat 15 Hari Kemudian
Dampak kenaikan dolar AS tidak serta-merta dirasakan saat nilai tukar melonjak. Kata Pakde Fauzan, efeknya baru terasa sekitar 15 hari kemudian.
"Karena umumnya perajin tempe masih punya stok bahan baku kedelai 15 harian ke depan (dua pekan ke depan). Jadi, dampak dolar naik baru terasa setelah itu, saat kami harus beli bahan baku dengan harga baru," katanya.
Langkah untuk menyiasati lonjakan harga bahan baku, para perajin tempe tidak serta-merta menaikkan harga jual tempe.
Strategi yang kerap diambil adalah memperkecil ukuran atau volume tempe agar tetap terjangkau oleh konsumen.
"Biasanya perajin tempe tidak langsung menaikkan harga. Cari cara supaya tidak memberatkan konsumen dan tidak merugikan pembuat tempe. Kira-kira begitu," ujarnya.
Batas Toleransi
Namun, Pakde Fauzan menegaskan batas toleransi kenaikan bahan baku bagi perajin tempe tetap ada.
| Analisis Guru Besar Universitas Jambi Prof Haryadi, Dampak Dolar Naik ke Jambi |
|
|---|
| Produsen Tempe Tahu di Jambi Ketar Ketir Dolar Menguat, Terungkap Bahan Bakunya |
|
|---|
| Petani Sawit Jambi Waswas Dolar Menguat, Pupuk Bisa Naik Ratusan Ribu |
|
|---|
| Harga Pupuk di Batang Hari Melonjak, Pedagang dan Petani Mulai Tertekan |
|
|---|
| Kurs Dolar Naik, Harga Sawit dan Upah Pekerja di Tanjab Barat Belum Berubah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Produsen-Tempe-Jambi-9.jpg)