Sabtu, 23 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Jambi

Warga Bukit Bakar Tergusur dan Kehilangan Akses Jalan, Layanan Kesehatan Terhambat

Konflik lahan sejak 2006 di Desa Bukit Bakar memanas pada Februari 2026 setelah PT Wira Karya Sakti diduga menggusur lahan warga.

Tayang:
Penulis: Rifani Halim | Editor: Heri Prihartono
Tribunjambi.com/Rifani Halim
KONFLIK-Konflik lahan sejak 2006 di Desa Bukit Bakar memanas pada Februari 2026 setelah PT Wira Karya Sakti diduga menggusur lahan warga dan memutus akses jalan hingga menghambat kesehatan, pendidikan, dan ekonomi masyarakat. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Konflik agraria antara warga Desa Bukit Bakar dan Lubuk Kambing, Kecamatan Renah Mendaluh, Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan PT Wirakarya Sakti (WKS) kembali memanas.

Warga mengaku kehilangan lahan garapan, akses jalan diputus, hingga sumber penghidupan yang diwariskan turun-temurun ikut hilang.

Tokoh adat Desa Bukit Bakar, Datuk Alwi, mengenang bagaimana perusahaan dahulu datang membawa berbagai janji pembangunan kepada masyarakat.

“Datang ke tempat kami, ke kantor camat kami itu. Dikasih nasi bungkus seorang. Dia bilang, minta sapi, minta jalan, minta segala macam, semua bakal dibuatkan. Tapi nyatanya sampai hari ini musnah semuanya,” ujarnya.

Menurut Datuk Alwi, kawasan yang dahulu dipenuhi kebun duku dan durian kini berubah menjadi areal tanaman industri perusahaan.

“Duku habis, durian habis. Harta mak kami, datuk kami di situ habis. Tiga dusun WPK itu punah segalanya,” katanya.

Ia mengatakan, pada awal 1990-an kawasan tersebut masih menjadi sentra buah masyarakat.

“Tahun 92 itu durian masih banyak. Kami ke situ pakai sepeda, belum ada Honda. Orang pembeli durian sampai tak sempat lagi bawa semua,” kenangnya.

Kini, kata dia, pohon duku yang tersisa hanya tinggal beberapa batang saja.

“Duku sekarang masih ada, tapi tinggal dua tiga batang. Dilalap WKS itu,” ujarnya.

Datuk Alwi juga menolak tawaran kemitraan yang disebut pernah diajukan perusahaan. Menurutnya, masyarakat bukan meminta kerja sama, melainkan menuntut pengembalian tanah datuk dan nenek mereka.

“Kalau dia ngajak mitra, kami tidak bisa. Kami nuntut harta pusako. Ini harta datuk kami,” tegasnya.

Ia menyebut luas tanah adat yang dahulu mencapai sekitar 3.800 hektare kini hanya menyisakan sebagian kecil di wilayah Bukit Bakar dan Pauk.

Selain kebun buah, pohon sialang tempat lebah bersarang juga disebut ikut hilang akibat aktivitas perusahaan.

“Sialang habis juga. Ada yang diracun batangnya sampai mati,” ucapnya.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved