Selasa, 28 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Kota Jambi

Fenomena Gepeng Marak di Ramadan, Pengamat Unbari Sebut “Bisnis Kesedihan”

Aktivitas gepeng di Kota Jambi kembali marak saat Ramadan, dan pengamat menilai fenomena ini tumbuh seperti “bisnis kesedihan”.

Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: Heri Prihartono
Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi
FENOMENA GEPENG- Pengamat sosial Unbari Ansory memaparkan aktivitas gepeng di Kota Jambi kembali marak saat Ramadan, dan pengamat menilai fenomena ini tumbuh seperti “bisnis kesedihan”. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Memasuki bulan Ramadan 2026, aktivitas gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kota Jambi kembali marak.

Keberadaan pengemis di persimpangan lampu merah, manusia gerobak, hingga manusia silver mulai terlihat di berbagai titik.

Pengamat sosial dari Universitas Batanghari, Ansory, mengatakan aktivitas mengemis saat ini telah bergeser menjadi mata pencarian bagi sebagian masyarakat.

Menurutnya, salah satu faktor pendorong adalah terbatasnya lapangan pekerjaan bagi warga yang tidak memiliki keterampilan khusus serta mudahnya memperoleh uang dari aktivitas tersebut.

“Ini seperti bisnis yang menjual kesedihan dan penderitaan,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).

Ansory menyebut, gepeng di Jambi banyak beroperasi di persimpangan lampu merah, pasar, hingga jalan protokol.

Tidak semua melakukannya secara terang-terangan. Ada pula yang mengemis secara tersirat dengan menunjukkan ekspresi memelas, duduk berdiam diri, atau membawa anak, sehingga memunculkan rasa iba masyarakat.

Untuk gepeng yang sering berada di ATM dan pinggir jalan protokol, mereka umumnya hanya duduk tanpa meminta secara verbal, namun tetap menerima santunan dari warga. Sementara itu, manusia gerobak biasanya beroperasi di pinggir jalan, sedangkan manusia silver dan pengamen cenderung meminta langsung di lampu merah maupun rumah ibadah.

Situasi tersebut, kata Ansory, diperparah oleh kebiasaan masyarakat yang mudah memberikan uang atau barang kepada gepeng tanpa mempertimbangkan apakah mereka benar-benar membutuhkan bantuan.

“Inilah yang membuat bisnis kesedihan semakin subur di Kota Jambi,” jelasnya.

Ansory mengaku pernah melihat langsung sejumlah gepeng diantar dan dijemput seseorang menggunakan sepeda motor. Hal itu memperkuat dugaan adanya pihak yang mengoordinasi mereka.

Untuk mengatasi persoalan ini, menurut Ansory, diperlukan langkah konkret dari pemerintah Kota Jambi maupun pemerintah provinsi.

Upaya tersebut dapat berupa penyusunan peraturan daerah, sosialisasi masif, dan pendataan warga miskin oleh perangkat pemerintahan hingga tingkat RT.

“Jangan sampai kita bersedekah kepada orang yang tidak kita kenal di jalan, sementara tetangga atau saudara kita kekurangan tapi tidak kita bantu,” tegasnya.

Ia menilai warga kurang mampu perlu diberikan pelatihan keterampilan serta modal usaha, sehingga tidak terdorong turun ke jalan untuk mengemis. Pemerintah juga harus bertindak tegas terhadap gepeng dari luar daerah, melalui razia rutin dan pemulangan langsung.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved