Minggu, 19 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Israel vs Iran

Konflik Iran–AS Memanas, Indonesia Dinilai Punya Ruang Diplomasi Besar

Konflik Iran–Amerika mendorong ketegangan global yang berdampak pada reposisi diplomasi Indonesia serta menekan sektor ekonomi daerah seperti Jambi.

Tribun Lampung/ Ist/ Kolase Tribun Jambi
RUANG DIPLOMASI- Dosen Ilmu Politik Universitas Jambi, Moh Arief Rakhman, S.IP., M.I.Pol.Konflik Iran–Amerika mendorong ketegangan global yang berdampak pada reposisi diplomasi Indonesia serta menekan sektor ekonomi daerah seperti Jambi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Memanasnya konflik Iran dan Amerika Serikat saat ini tidak lagi dapat dipahami sebagai sekadar eskalasi diplomatik atau ancaman konflik.

Faktanya, dunia kini sudah memasuki fase konfrontasi militer langsung antarpemain negara.

Serangan yang terjadi kemarin terhadap infrastruktur strategis dan kepemimpinan Iran, kemudian dibalas serangan rudal serta drone terhadap kepentingan Amerika dan Israel di kawasan Timur Tengah, menandai perubahan signifikan dalam politik internasional.

Hal tersebut disampaikan Dosen Ilmu Politik Universitas Jambi, Moh Arief Rakhman, S.IP., M.I.Pol, saat dihubungi Tribunjambi.com melalui pesan WhatsApp, Minggu (1/3/2026).

Dia mengatakan, konflik Timur Tengah kembali naik dari tingkat proxy conflict menuju direct interstate confrontation.

“Ini membuktikan bahwa Israel pun dapat menempatkan negara sebesar AS berada dalam posisi proxy-nya,” ujarnya.

Arief menuturkan, dampak politik global tidak hanya berupa peningkatan ketegangan keamanan, tetapi juga risiko ketidakstabilan sistem internasional.

“Konflik ini terjadi di pusat geopolitik energi dunia dan melibatkan aktor dengan kapasitas eskalasi tinggi,” tuturnya.

Dia menjelaskan, dalam perspektif hubungan internasional, yang menarik bukan semata-mata fakta saling serang tersebut.

“Tetapi bagaimana konflik ini tampak tetap berada dalam batas tertentu, seolah ada mekanisme tidak tertulis untuk menjaga eskalasi agar tidak berubah menjadi perang besar,” jelasnya.

“Di sinilah letak aspek geopolitik yang menarik. Politik global sering berjalan sebagai strategic buffering, yakni distribusi informal peran stabilisasi kepada negara tertentu agar konflik tidak meluas ke aktor yang paling berbahaya,” lanjutnya.

Arief mencontohkan konflik Afghanistan dan Pakistan yang menunjukkan bahwa Pakistan selama bertahun-tahun berfungsi sebagai penyangga konflik regional, sehingga negara berkekuatan nuklir tidak langsung masuk ke perang terbuka.

Sementara dalam isu Gaza dan dinamika dunia Muslim, Indonesia sering berada pada posisi unik.

Bukan sebagai aktor militer, tetapi sebagai penyalur tekanan politik dan moral internasional melalui berbagai gerakan masyarakat sipil, mulai dari donasi hingga demonstrasi.

“Ini penting karena membantu menjaga agar solidaritas global tetap tersalurkan tanpa meningkatkan risiko eskalasi keamanan,” katanya.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved