Advertorial
Sudah Bayar UKT, Tapi Disuruh Belajar Sendiri??
Jika kita baca dari judul diatas, pengalaman seperti ini tampaknya bukan hal asing bagi
Penulis: Esti Cahya Kumala, Natasya Tama Ardi dan Dini Febrianti
TRIBUNJAMBI.COM - Jika kita baca dari judul diatas, pengalaman seperti ini tampaknya bukan hal asing bagi sebagian besar mahasiswa di Indonesia, karena dilihat dari sisi pengajar, tindakan ini merupakan salah satu upaya yang dapat mendorong kemandirian belajar pada mahasiswa.
Tetapi, jika dilihat dari sisi mahasiswa, tidak sedikit mahasiswa yang merasa kebingungan dalam proses pembelajaran, frustasi, hingga kehilangan motivasi belajar akibat tekanan tugas tanpa dasar yang kuat. Penulis sendiri bahkan juga pernah merasakan hal tersebut, hingga ada kalanya muncul pertanyaan, “Apakah ajaran seperti ini sebenarnya sudah sesuai dengan prinsip pembelajaran atau sebaliknya?” Mari kita bedah bersama mengenai fenomena ini.
Perlu kita pahami, bahwa tidak semua kasus mahasiswa yang mendapatkan tugas tanpa materi yang belum diajarkan sebelumnya dapat digeneralisasi, karena terkadang ada kalanya tugas yang diberikan merupakan pengembangan dari materi sebelumnya, yang mungkin belum sepenuhnya dipahami oleh mahasiswa tersebut, contohnya ketika kita diminta untuk menyusun laporan hasil asesmen psikologi, padahal kenyataannya pemahaman mengenai dasar-dasar penyusunan laporan sudah di ajarkan pada semester sebelumnya, hanya implementasinya saja yang sedikit berbeda. Artinya, kemandirian disini bukan berarti “menyuruh” mahasiswa untuk belajar sendiri dari awal, melainkan pengajar tetap membekali dengan dasar yang cukup, sehingga harapannya mahasiswa dapat terus berkembang melewati batas kemampuannya.
Lebih lanjut, strategi ini dapat dikaji melalui salah satu teori yang ada dalam psikologi, yaitu scaffolding. Konsep scaffolding dalam pendidikan berakar dari pemikiran Lev Vygotsky, seorang psikolog asal Rusia yang memperkenalkan teori Zone of Proximal Developemnt (ZPD), dimana ZPD sendiri merujuk pada jarak antara, apa yang dapat dilakukan seorang mahasiswa secara mandiri dengan apa yang dapat ia lakukan dibawah bimbingan orang yang lebih kompeten.
Dalam teori ini, scaffolding didefinisikan sebagai usaha pengajar dalam memberikan bantuan kepada mahasiswa guna tercapainya tujuan pembelajaran yang maksimal (Rahmadhani, 2021). Pada prosesnya, bentuk bantuan yang diberikan akan berangsur-angsur dikurangi untuk melatih kemandirian belajar dan tanggung jawab mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian Saputra, Novaliyosi, Syamsuri, dan Hendrayana (2024), pembelajaran yang disertai scaffolding, lebih efektif dibandingkan pembelajaran tanpa bimbingan yang memadai, karena bantuan bertahap membantu mahasiswa memahami materi secara lebih terarah. Temuan ini juga diperkuat oleh Sweller, van Merriënboer, & Paas (2019) yang menyatakan bahwa ketika mahasiswa diberikan tugas kompleks tanpa dukungan kognitif yang memadai, beban kerja working memory menjadi overload sehingga pembelajaran menjadi tidak efektif. Scaffolding disini berperan untuk mengurangi beban ini dengan memecah tugas menjadi langkah-langkah yang lebih mudah dipahami.
Perlu di ingat juga bahwa tantangan maupun kesulitan juga merupakan bagian penting dari proses pembelajaran yang bermakna. Yang menjadi masalah disini adalah ketiadaan pemberian scaffolding, seperti tidak adanya penjelasan dasar yang kuat sebelumnya, sumber rujukan, dan umpan balik. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Zuo et al. (2023), yang menyatakan bahwa, pengajar yang efektif tidak langsung memberikan jawaban, melainkan mengarahkan mahasiswa pada sumber dan langkah yang tepat sehingga keberhasilan yang dicapai secara mandiri menjadi lebih bermakna.
Disini, penulis memberikan contoh pengalaman penerapan scaffolding yang dapat dikatakan mendekati penilaian ideal dan efektif yang ditemukan di Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi. Dalam mata kuliah yang men-syaratkan mahasiswa untuk turun langsung ke lapangan, seperti wawancara dan observasi, dosen pengampu mata kuliah menerapkan metode perkuliahan yang membagi semester itu menjadi dua fase. Fase pertama, dimulai dari pertemuan 1-8, dimana seluruh perkuliahan diisi dengan pemaparan teori, sesi diskusi, analisis kasus, dan bahkan melakukan simulasi.
Selanjutnya, mulai pertemuan 9 hingga akhir perkuliahan, mahasiswa mulai turun ke lapangan dengan pendampingan dan sesi bimbingan intensif dari pengajar. Dengan demikian, pola ini mencerminkan dengan sangat tepat apa yang dimaksud oleh Vygotsky mengenai scaffolding Pada akhirnya teman-teman, scaffolding ini membahas tentang keseimbangan antara pemberian konsep yang cukup untuk memulai sesuatu dan pemberian ruang yang cukup pula untuk mengembangkan sesuatu. Jadi, nantinya ketika scaffolding ini hadir dalam setiap proses pembelajaran, tugas yang paling menantang sekalipun akan berubah menjadi pengalaman yang bermakna pada mahasiswa.
REFERENSI
M. Zuo, S. Kong, Y. Ma, Y. Hu, and M. Xiao, (2023). “The Effects of Using Scaffolding in
Online Learning: A Meta-Analysis” Educ. Sci., vol. 13, no. 7, 2023, doi:
10.3390/educsci13070705
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Gyyyyy.jpg)