Minggu, 7 Juni 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Advertorial

Sudah Bayar UKT, Tapi Disuruh Belajar Sendiri??

Jika kita baca dari judul diatas, pengalaman seperti ini tampaknya bukan hal asing bagi

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Content Writer
TRIBUN JAMBI/ISTIMEWA
Ilustrasi 

Penulis: Esti Cahya Kumala, Natasya Tama Ardi dan Dini Febrianti

TRIBUNJAMBI.COM - Jika kita baca dari judul diatas, pengalaman seperti ini tampaknya bukan hal asing bagi sebagian besar mahasiswa di Indonesia, karena dilihat dari sisi pengajar, tindakan ini  merupakan salah satu upaya yang dapat mendorong kemandirian belajar pada mahasiswa.

Tetapi, jika dilihat dari sisi mahasiswa, tidak sedikit mahasiswa yang merasa kebingungan dalam proses pembelajaran, frustasi, hingga kehilangan motivasi belajar akibat tekanan tugas  tanpa dasar yang kuat. Penulis sendiri bahkan juga pernah merasakan hal tersebut, hingga ada  kalanya muncul pertanyaan, “Apakah ajaran seperti ini sebenarnya sudah sesuai dengan  prinsip pembelajaran atau sebaliknya?” Mari kita bedah bersama mengenai fenomena ini.

Perlu kita pahami, bahwa tidak semua kasus mahasiswa yang mendapatkan tugas tanpa  materi yang belum diajarkan sebelumnya dapat digeneralisasi, karena terkadang ada kalanya  tugas yang diberikan merupakan pengembangan dari materi sebelumnya, yang mungkin belum  sepenuhnya dipahami oleh mahasiswa tersebut, contohnya ketika kita diminta untuk menyusun  laporan hasil asesmen psikologi, padahal kenyataannya pemahaman mengenai dasar-dasar  penyusunan laporan sudah di ajarkan pada semester sebelumnya, hanya implementasinya saja  yang sedikit berbeda. Artinya, kemandirian disini bukan berarti “menyuruh” mahasiswa untuk  belajar sendiri dari awal, melainkan pengajar tetap membekali dengan dasar yang cukup,  sehingga harapannya mahasiswa dapat terus berkembang melewati batas kemampuannya.

Lebih lanjut, strategi ini dapat dikaji melalui salah satu teori yang ada dalam psikologi, yaitu  scaffolding. Konsep scaffolding dalam pendidikan berakar dari pemikiran Lev Vygotsky, seorang  psikolog asal Rusia yang memperkenalkan teori Zone of Proximal Developemnt (ZPD), dimana  ZPD sendiri merujuk pada jarak antara, apa yang dapat dilakukan seorang mahasiswa secara  mandiri dengan apa yang dapat ia lakukan dibawah bimbingan orang yang lebih kompeten.

Dalam teori ini, scaffolding didefinisikan sebagai usaha pengajar dalam memberikan bantuan  kepada mahasiswa guna tercapainya tujuan pembelajaran yang maksimal (Rahmadhani, 2021).  Pada prosesnya, bentuk bantuan yang diberikan akan berangsur-angsur dikurangi untuk melatih  kemandirian belajar dan tanggung jawab mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian Saputra, Novaliyosi, Syamsuri, dan Hendrayana (2024),  pembelajaran yang disertai scaffolding, lebih efektif dibandingkan pembelajaran tanpa  bimbingan yang memadai, karena bantuan bertahap membantu mahasiswa memahami materi  secara lebih terarah. Temuan ini juga diperkuat oleh Sweller, van Merriënboer, & Paas (2019) yang menyatakan bahwa ketika mahasiswa diberikan tugas kompleks tanpa dukungan kognitif  yang memadai, beban kerja working memory menjadi overload sehingga pembelajaran menjadi  tidak efektif. Scaffolding disini berperan untuk mengurangi beban ini dengan memecah tugas  menjadi langkah-langkah yang lebih mudah dipahami.

Perlu di ingat juga bahwa tantangan maupun kesulitan juga merupakan bagian penting  dari proses pembelajaran yang bermakna. Yang menjadi masalah disini adalah ketiadaan  pemberian scaffolding, seperti tidak adanya penjelasan dasar yang kuat sebelumnya, sumber  rujukan, dan umpan balik. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Zuo et al. (2023), yang  menyatakan bahwa, pengajar yang efektif tidak langsung memberikan jawaban, melainkan  mengarahkan mahasiswa pada sumber dan langkah yang tepat sehingga keberhasilan yang  dicapai secara mandiri menjadi lebih bermakna.

Disini, penulis memberikan contoh pengalaman penerapan scaffolding yang dapat  dikatakan mendekati penilaian ideal dan efektif yang ditemukan di Program Studi Psikologi  Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi. Dalam mata kuliah yang men-syaratkan mahasiswa untuk turun langsung ke lapangan, seperti wawancara dan observasi, dosen pengampu mata kuliah menerapkan metode perkuliahan yang membagi semester itu  menjadi dua fase. Fase pertama, dimulai dari pertemuan 1-8, dimana seluruh perkuliahan diisi  dengan pemaparan teori, sesi diskusi, analisis kasus, dan bahkan melakukan simulasi.

 Selanjutnya, mulai pertemuan 9 hingga akhir perkuliahan, mahasiswa mulai turun ke lapangan  dengan pendampingan dan sesi bimbingan intensif dari pengajar. Dengan demikian, pola ini  mencerminkan dengan sangat tepat apa yang dimaksud oleh Vygotsky mengenai scaffolding Pada akhirnya teman-teman, scaffolding ini membahas tentang keseimbangan antara  pemberian konsep yang cukup untuk memulai sesuatu dan pemberian ruang yang cukup pula  untuk mengembangkan sesuatu. Jadi, nantinya ketika scaffolding ini hadir dalam setiap proses  pembelajaran, tugas yang paling menantang sekalipun akan berubah menjadi pengalaman yang  bermakna pada mahasiswa.

 

REFERENSI

M. Zuo, S. Kong, Y. Ma, Y. Hu, and M. Xiao, (2023). “The Effects of Using Scaffolding in

Online Learning: A Meta-Analysis” Educ. Sci., vol. 13, no. 7, 2023, doi:

10.3390/educsci13070705

 

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved