Sabtu, 2 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Advertorial

Popy Asri Yeni: Jiwa Muda, Kelas Kekinian, dan Semangat Pemuda Tanpa Batas

Di SMP Negeri 18 Muaro Jambi, tawa riuh siswa kerap terdengar dari ruang kelas matematika. Mereka sedang bermain Squid Game. 

Tayang:
Penulis: tribunjambi | Editor: Suci Rahayu PK
Istimewa
Popy Asri Yeni, M.Pd, guru matematika di SMP Negeri 18 Muaro Jambi 

“Saya masih guru baru saat itu. Diantara banyaknya guru-guru senior lain,” kenangnya. “Tapi Tanoto Foundation tidak melihat umur atau pangkat. Mereka memberi saya ruang untuk belajar, dan dari situlah saya mulai percaya diri,” kata Popy.

Kini, kepercayaan diri itu membawanya menjadi ketua tim SIPINTAR — Sinergi Inovasi Pembelajaran Integratif Literasi dan Numerasi berbasis Teknologi dan Budaya Lokal, sebuah inisiatif dari Program Literasi Numerasi Grant Project Tanoto Foundation tahun ini. 

Proyek tersebut akan menampilkan karya guru dan siswa dalam bentuk video praktik baik pembelajaran.

Popy menyebut proyek ini sebagai “loncatan besar” dalam perjalanan kariernya. 

“Dulu saya takut gagal, tapi sekarang saya tahu, belajar itu proses. Tidak apa-apa salah, yang penting terus mencoba,” ujarnya.

Kreatif di Tengah Keterbatasan

Sudah tujuh tahun Popy mengajar di SMPN 18 Muaro Jambi. Sekolahnya tak punya banyak fasilitas modern—bahkan  sebagian ruang kelasnya belum memiliki instalasi listrik untuk infokus. Namun, keterbatasan itu justru menjadi pemantik kreativitas.

“Kalau fasilitas terbatas, jangan berhenti berinovasi. Saya pakai halaman sekolah untuk bermain, kertas bekas untuk alat peraga. Yang penting, anak-anak belajar dengan gembira,” katanya.

Popy menerapkan pendekatan Problem-Based Learning dan Deep Learning melalui tiga prinsip utama: mindful learning (belajar memahami alasan di balik konsep), meaningful learning (mengaitkan materi dengan kehidupan nyata), dan joyful learning (belajar dengan suasana menyenangkan).

“Anak-anak saya itu tipe yang suka bergerak, jadi saya tidak bisa hanya ceramah. Harus ada aktivitas,” jelasnya.

Baca juga: Peringatan Bagi Warga Jakarta! Bakar Sampah Sembarangan, Siap-Siap Wajah Dipajang di Ruang Publik!

Menyalakan Semangat Pemuda di Kelas

Bagi Popy, menjadi guru adalah pilihan sadar untuk terus belajar, bukan karena merasa paling pintar. “Saya bukan mahasiswa paling cemerlang dulu,” ucapnya jujur. 

“Tapi semangat belajar saya tidak pernah padam. Saya ingin murid-murid saya juga punya semangat itu—tidak mudah menyerah dan tidak insecure,” timpalnya.

Semangat itulah yang terasa selaras dengan makna Hari Sumpah Pemuda: keberanian untuk bersatu, berinovasi, dan memberi arti bagi bangsa, tanpa harus menunggu sempurna.

“Jadi guru itu seperti jadi pemuda—harus punya semangat perubahan. Dunia berubah cepat, murid berubah cepat, dan kita juga harus terus belajar menyesuaikan diri,” katanya.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved