Sabtu, 18 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Advertorial

Menjemput Kembali Kejayaan Pendidikan dari Tanah Muaro Jambi

Pada 2024, ratusan siswa di Muaro Jambi dilaporkan tidak mampu melanjutkan studi. Seperti di SMPN 60 Desa Tantan, terdapat 46 murid yang harus

Editor: Tommy Kurniawan
ist
Menjemput Kembali Kejayaan Pendidikan dari Tanah Muaro Jambi 

Opini Editorial : Nurul Hasanah, System Strengthening Unit Tanoto Foundation 

TRIBUNJAMBI.COM - Beberapa abad silam, sebuah wilayah yang berada di Tanah Sumatra menjadi magnet bagi para pencari ilmu dari berbagai penjuru negeri: Tiongkok, India, Nepal, hingga Bhutan. Mereka datang menempuh perjalanan jauh demi belajar di sini.

Para murid tinggal di ribuan kamar yang tersusun rapi, mengakses perpustakaan yang kaya naskah, dan tak sedikit dari mereka yang berkesempatan melanjutkan studi ke pusat pendidikan tertinggi di Nalanda, India.

Semua itu bukan sekadar legenda. Jejaknya masih berdiri di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.  Kompleks candi Buddha terbesar di Asia Tenggara adalah saksinya: betapa daerah ini pernah menjadi pusat peradaban dan pendidikan pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi.

Di sinilah pula I Tsing, cendekiawan asal Tiongkok abad ke-8, menulis tentang kemajuan Kerajaan Sriwijaya.

Namun, di balik kejayaan masa lampau itu, realitas pendidikan di Kabupaten Muaro Jambi hari ini masih bergulat dengan sejumlah tantangan: angka putus sekolah, capaian literasi dan numerasi rendah, serta akses pendidikan yang belum merata.

Akankah kejayaan Muaro Jambi di masa lampau itu, terutama dalam aspek pendidikan, dapat terulang dengan realitas yang sekarang terjadi?

Baca juga: Cegah Stunting, Pertamina Hadirkan Program PMT Sekaligus Edukasi Penanganan Tersedak pada Anak

Baca juga: Kapolda Jambi Buka Kegiatan Taklimat Awal Audit Kinerja Itwasum Polri Tahap II Tahun Anggaran 2025

Tantangan Besar

Pada 2024, ratusan siswa di Muaro Jambi dilaporkan tidak mampu melanjutkan studi. Seperti di SMPN 60 Desa Tantan, terdapat 46 murid yang harus berhenti bersekolah.

Masalah akses dan biaya dianggap sebagai faktor penyebab, yang kemudian terus dibenahi oleh pemda setempat.

Tidak hanya soal putus sekolah, kualitas pendidikan di Kabupaten Muaro Jambi juga menghadapi tantangan besar.

Hal ini tercermin dari Rapor Pendidikan Daerah 2025 yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dalam rapor tersebut diketahui skor kemampuan literasi siswa SD “hanya” di angka 54,31 bahkan 47,71 untuk kecakapan numerasi. Capaian ini tergolong rendah.

Adapun untuk jenjang SMP, rapor memang menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya dengan skor literasi 66,42 dan numerasi  59,72. Namun angka tersebut juga dinilai belum memenuhi standar ideal.

Angka-angka itu menjadi indikasi bahwa fondasi literasi dan numerasi di Muaro Jambi, khususnya di jenjang SD, masih lemah. Skor itu juga  menjadi titik kritis untuk menggambarkan ketidakmampuan anak dalam membaca dan berhitung sejak dini.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved