Berita Viral

Mengenang Kopral Bagyo: Prajurit Terbaik dengan Segudang Prestasi yang Menginspirasi

Sosok Kopral Bagyo dikenal luas  karena semangat, keberanian, dan konsistensinya sebagai prajurit TNI yang luar biasa. 

Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
Alsadad Rud
WAFAT. Sosok Kopral Bagyo dikenal luas  karena semangat, keberanian, dan konsistensinya sebagai prajurit TNI yang luar biasa.  

TRIBUNJAMBI.COM – Sosok Kopral Bagyo dikenal luas  karena semangat, keberanian, dan konsistensinya sebagai prajurit TNI yang luar biasa. 

Di tengah hiruk-pikuk dunia militer yang kerap mengagungkan kenaikan pangkat, Partika Subagyo Lelono justru memilih bertahan sebagai kopral sepanjang masa dinasnya.

 Pilihan yang langka, berani, dan membumi karakter yang sepenuhnya mewakili sosoknya.

Lahir di Banyuwangi pada 14 Desember 1963, Kopral Bagyo mengawali karier militernya di Detasemen Polisi Militer (Denpom) IV/4 Solo. 

Di sanalah ia menorehkan reputasi yang tak biasa. Ia bukan hanya sekadar prajurit, melainkan inspirasi hidup bagi banyak generasi, baik di kalangan TNI maupun masyarakat sipil. Ketika nama-nama besar berlomba menempati posisi tertinggi, Bagyo justru mencatatkan namanya dalam sejarah dengan cara yang berbeda lewat tubuh dan tekadnya.

Prestasi yang paling dikenang tentu saja adalah aksinya pada 9–10 Desember 2006, saat ia mencatat rekor push-up terlama versi Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

 Ia berhasil melakukan push-up selama 21 jam 40 menit, dengan waktu istirahat hanya 2 jam 20 menit. Total gerakan yang ia capai mencapai 9.260 kali.

Aksi ini membuatnya menjadi bahan pemberitaan nasional dan menjadikan namanya dikenal sebagai “Kopral Langka”, julukan yang kemudian digunakan oleh majalah militer internal Gaja Mada ketika menjadikannya sampul utama.

Namun itu bukan satu-satunya aksi ekstremnya. 

Pada tahun 2012, ia kembali menyita perhatian publik dengan melakukan koprol sebanyak 1.046 kali sejauh lima kilometer di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Solo.

 Setahun kemudian, dalam peringatan HUT ke-70 Polisi Militer Angkatan Darat, ia berlari mengelilingi Monas selama 25 jam nonstop. Aksi ini dilakukannya bukan atas permintaan siapa pun, melainkan sebagai bentuk rasa terima kasih dan penghormatan terhadap korps yang ia cintai sepenuh hati. “Saya ingin menyampaikan selamat ulang tahun untuk korps saya. Ini surprise dari saya,” katanya waktu itu kepada wartawan yang menemuinya di lokasi.

Ketangguhannya bukan hanya diukur dari fisik. Tahun 2010, ia bahkan pernah menjalani ujian kekuatan tubuh yang ekstrem: dipukuli satu kompi prajurit selama 15 menit sebagai bagian dari uji ketahanan fisik. Bukannya tumbang, ia justru menerima penghargaan sebagai prajurit terkuat dan diganjar medali emas oleh Wakasad Letjen TNI Suryo Prabowo. Dalam dirinya, keberanian bukan sekadar slogan, tapi benar-benar menjadi gaya hidup.

Yang paling mengesankan dari sosok Kopral Bagyo adalah kerendahan hatinya. 

Saat semua rekannya mulai naik pangkat, ia menolak kesempatan tersebut meski sudah ditawari untuk mengikuti pendidikan calon Bintara. Baginya, pangkat bukanlah tujuan. “Saya suka jadi Kopral. Saya bangga dengan pangkat itu. Saya tidak malu meskipun anak saya sendiri sudah berpangkat Bintara,” ujar Subagyo dengan nada santai namun penuh keyakinan dalam sebuah wawancara tahun 2013. 

Ucapan itu bukan sekadar retorika. Hingga pensiun dari dinas militer pada 2016, ia tetap menjadi Kopral dan merasa cukup terhormat dengan status tersebut.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved