Senin, 4 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Khazanah Islami

Niat Puasa Asyura 1, 9, dan 10 Muharram Beserta Keutamaannya

Umat Islam di berbagai penjuru dunia tengah bersiap menyambut salah satu hari penting dalam kalender Hijriyah, yakni Hari Asyura.

Tayang:
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
Freepik
PUASA ASYURA- Niat Puasa Asyura 1, 9, dan 10 Muharram Beserta Keutamaannya. 

TRIBUNJAMBI.COM - Umat Islam di berbagai penjuru dunia tengah bersiap menyambut salah satu hari penting dalam kalender Hijriyah, yakni Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram 1447 H.

Berdasarkan perkiraan kalender Hijriyah 2025, Hari Asyura tahun ini diprediksi jatuh pada Minggu, 6 Juli 2025.

Hari Asyura bukanlah sekadar penanda dalam sistem penanggalan Islam. Ia mengandung sejarah panjang, nilai spiritual mendalam, dan momentum untuk refleksi diri.

Rasulullah Muhammad SAW menjadikan hari ini sebagai salah satu waktu utama untuk berpuasa sunnah.

 Amalan ini tidak hanya dianjurkan karena nilai ibadahnya, tetapi juga karena kisah di balik peristiwa besar yang pernah terjadi pada tanggal tersebut.


Puasa Asyura telah dikenal dan diamalkan jauh sebelum umat Islam mengenalnya.

Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, beliau mendapati komunitas Yahudi di sana menjalankan puasa pada tanggal 10 Muharram.

Rasulullah bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab bahwa pada hari itu Allah telah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Raja Fir’aun, sehingga mereka berpuasa sebagai bentuk rasa syukur.

Menanggapi hal itu, Rasulullah bersabda, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada mereka,” lalu beliau pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umat Islam untuk turut berpuasa.

 Sejak saat itulah, puasa Asyura menjadi salah satu puasa sunnah yang dianjurkan dalam Islam, sebagaimana tercantum dalam hadis-hadis sahih, termasuk yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Ibnu Majah.


Hari Asyura menyimpan makna spiritual yang dalam. Ia adalah momen untuk mengenang kemenangan kebenaran atas kezaliman, sebagaimana kisah Nabi Musa yang diselamatkan Allah dari tirani Fir’aun.

Ia juga menjadi momen muhasabah diri atas perjalanan hidup satu tahun ke belakang, karena puasa pada hari ini dipercaya dapat menghapus dosa-dosa kecil setahun lalu, sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:

"Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah, agar puasa itu menghapus dosa-dosa satu tahun sebelumnya." (HR. Muslim)

Namun, penghapusan dosa ini tidak mencakup dosa-dosa besar yang memerlukan taubat nasuha, apalagi urusan muamalah seperti hutang, sengketa, atau kezaliman terhadap orang lain.

 Hal ini juga ditegaskan oleh ulama Indonesia, Ustadz Abdul Somad (UAS), yang mengingatkan bahwa puasa Asyura tidak dapat menggugurkan tanggungan seperti hutang atau harta orang lain yang belum dikembalikan.


Puasa Asyura dikerjakan pada tanggal 10 Muharram.

 Namun, ulama menganjurkan untuk menambahkannya dengan puasa pada tanggal 9 dan 11 Muharram guna menyempurnakan sunnah Rasul dan membedakan dari praktik puasa kaum Yahudi yang hanya melakukannya pada 10 Muharram.

Menurut Ustadz Abdul Somad, bagi yang mampu sangat dianjurkan berpuasa selama tiga hari: 9, 10, dan 11 Muharram.

Jika tidak sanggup, maka cukup dua hari: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Jika hanya mampu satu hari saja, maka cukup 10 Muharram.

Tata cara puasa Asyura tidak berbeda dari puasa sunnah lainnya, yaitu:

Membaca niat puasa sunnah Asyura, yang dapat dilakukan pada malam hari atau sebelum terbit fajar.

Makan sahur, yang meskipun tidak wajib, sangat dianjurkan sebagai bentuk keberkahan dan kekuatan fisik selama berpuasa.

Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, berhubungan suami-istri, serta menjaga diri dari ucapan atau perilaku buruk.

Menyegerakan berbuka saat waktu Maghrib tiba, sesuai sunnah Rasulullah SAW.

Keutamaan dan Janji Pahala Puasa Asyura

Dalam berbagai literatur keislaman, disebutkan bahwa orang yang melaksanakan puasa ini akan mendapatkan pahala yang besar, perlindungan dari musibah, serta syafaat kelak di hari kiamat. 

Bahkan ada pendapat bahwa pahalanya dapat menyamai keutamaan puasa Ramadhan dalam aspek pengampunan dosa meskipun tidak menggantikannya.

Berbagai riwayat menyebutkan bahwa di hari Asyura juga terjadi banyak peristiwa penting lain, seperti:

Nabi Nuh AS diselamatkan dari banjir besar dan kapal beliau mendarat di Bukit Judi.

Nabi Yunus AS dikeluarkan dari perut ikan paus.

Nabi Ibrahim AS selamat dari api yang dinyalakan Raja Namrud.


Peristiwa-peristiwa tersebut makin mempertegas bahwa Asyura adalah hari yang penuh rahmat, pembebasan, dan penyelamatan.

Memasuki tanggal 10 Muharram 1447 H yang diperkirakan jatuh pada 6 Juli 2025, umat Islam diajak menjadikan Asyura sebagai momentum merenungi kembali perjalanan hidup, bersyukur atas keselamatan yang Allah limpahkan, serta memperbanyak ibadah di bulan yang disebut-sebut sebagai bulan Allah Muharram.

Di tengah hiruk pikuk dunia yang penuh ketidakpastian, Asyura hadir sebagai oase ketenangan, membimbing umat untuk kembali pada nilai-nilai tauhid, kesabaran, dan syukur.

Puasa Asyura bukan sekadar ritual, tapi juga bentuk ikrar batin: bahwa dalam setiap cobaan, ada jalan keluar; dalam setiap kesulitan, ada pertolongan Allah.

Baca juga: Jadwal Puasa Asyura Disertai Keutamaan Bagi Umat Muslim yang Mengerjakannya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved