Khazanah Islami
Niat Puasa Asyura 1, 9, dan 10 Muharram Beserta Keutamaannya
Umat Islam di berbagai penjuru dunia tengah bersiap menyambut salah satu hari penting dalam kalender Hijriyah, yakni Hari Asyura.
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
TRIBUNJAMBI.COM - Umat Islam di berbagai penjuru dunia tengah bersiap menyambut salah satu hari penting dalam kalender Hijriyah, yakni Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram 1447 H.
Berdasarkan perkiraan kalender Hijriyah 2025, Hari Asyura tahun ini diprediksi jatuh pada Minggu, 6 Juli 2025.
Hari Asyura bukanlah sekadar penanda dalam sistem penanggalan Islam. Ia mengandung sejarah panjang, nilai spiritual mendalam, dan momentum untuk refleksi diri.
Rasulullah Muhammad SAW menjadikan hari ini sebagai salah satu waktu utama untuk berpuasa sunnah.
Amalan ini tidak hanya dianjurkan karena nilai ibadahnya, tetapi juga karena kisah di balik peristiwa besar yang pernah terjadi pada tanggal tersebut.
Puasa Asyura telah dikenal dan diamalkan jauh sebelum umat Islam mengenalnya.
Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, beliau mendapati komunitas Yahudi di sana menjalankan puasa pada tanggal 10 Muharram.
Rasulullah bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab bahwa pada hari itu Allah telah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Raja Fir’aun, sehingga mereka berpuasa sebagai bentuk rasa syukur.
Menanggapi hal itu, Rasulullah bersabda, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada mereka,” lalu beliau pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umat Islam untuk turut berpuasa.
Sejak saat itulah, puasa Asyura menjadi salah satu puasa sunnah yang dianjurkan dalam Islam, sebagaimana tercantum dalam hadis-hadis sahih, termasuk yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Ibnu Majah.
Hari Asyura menyimpan makna spiritual yang dalam. Ia adalah momen untuk mengenang kemenangan kebenaran atas kezaliman, sebagaimana kisah Nabi Musa yang diselamatkan Allah dari tirani Fir’aun.
Ia juga menjadi momen muhasabah diri atas perjalanan hidup satu tahun ke belakang, karena puasa pada hari ini dipercaya dapat menghapus dosa-dosa kecil setahun lalu, sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:
"Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah, agar puasa itu menghapus dosa-dosa satu tahun sebelumnya." (HR. Muslim)
Namun, penghapusan dosa ini tidak mencakup dosa-dosa besar yang memerlukan taubat nasuha, apalagi urusan muamalah seperti hutang, sengketa, atau kezaliman terhadap orang lain.
Hal ini juga ditegaskan oleh ulama Indonesia, Ustadz Abdul Somad (UAS), yang mengingatkan bahwa puasa Asyura tidak dapat menggugurkan tanggungan seperti hutang atau harta orang lain yang belum dikembalikan.
| Jadwal Puasa Sunah Ayyamul Bidh Syawal 1447 H beserta Niat dan Keutamaannya |
|
|---|
| Hukum Menikah dengan Sepupu dalam Perspektif Islam dan Negara Indonesia |
|
|---|
| Bacaan Takbir Idulfitri 1447 Hijriah Lengkap Penjelasan Ustaz Abdul Somad |
|
|---|
| Hukum Video Call Dengan Lawan Jenis Saat Puasa Ramadan |
|
|---|
| Tanda Amal Ibadah Selama Ramadan Diterima Allah SWT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/ilustrasi-berdoa-setelah-solat.jpg)