Polemik di Papua
3 Mantan Anggota KKB Papua Ikrar Setia ke NKRI, Demi Merah Putih, Kami Kembali
Tiga mantan anggota Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua atau KKB Papua menyatakan setia atau ikrar ke NKRI.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
"Kembalinya tiga anak bangsa ini merupakan bukti nyata bahwa harapan itu masih hidup di Papua. Ini bukan hanya keberhasilan aparat, tapi keberhasilan hati dan kemanusiaan. Kita tidak sedang berperang melawan saudara kita, kita sedang berjuang memenangkan mereka kembali. Satgas kami tidak akan pernah lelah berdialog, mendengarkan, dan memeluk kembali mereka yang tersesat oleh propaganda separatisme."
Baca juga: TOKOH MUDA Kecam Aksi Brutal KKB Papua: Tidak Manusiawi, Langgar HAM, Warga Trauma
Baca juga: FADLI ZON Ngotot Sebut Tak Ada Pemerkosaan Massal Mei 1998: Harus Ada Fakta Siapa Korbannya
Letkol Heraldo menekankan bahwa pendekatan non-kekerasan, komunikasi terbuka, dan pembinaan yang berkelanjutan harus menjadi garda terdepan dalam operasi teritorial ke depan:
"Papua tidak butuh lebih banyak konflik. Papua butuh lebih banyak tangan yang merangkul. Kami akan terus berada di tengah masyarakat untuk memberi rasa aman dan harapan."
Tiga saudara kandung tersebut kemudian berdiri tegap di depan Bendera Merah Putih.
Di bawah tatapan khidmat para hadirin, mereka membacakan ikrar kesetiaan kepada NKRI. Mata mereka basah, suara mereka tegas. Tangis haru pecah di antara keluarga, tokoh adat, dan aparat yang hadir.
Tak lama setelah itu, mereka menandatangani surat ikrar-sebuah simbol resmi dari pernyataan hati mereka untuk meninggalkan kehidupan di jalur separatis dan memilih jalan damai bersama NKRI.
Manus Murib, mewakili pihak keluarga, dalam pidato yang menyentuh, menyampaikan rasa terima kasih kepada TNI-Polri dan seluruh aparat keamanan.
Ia memohon agar kehadiran pos keamanan diperluas ke Distrik Yugumuak:
"Kami percaya, hanya dengan bersatu dan berdiri bersama NKRI, anak-anak kami bisa hidup aman, bisa sekolah, bisa bercita-cita. Kami tidak ingin lagi hidup dalam bayang-bayang ketakutan."
Prosesi paling menggetarkan jiwa kemudian dimulai: Amus, Amute, dan Anis Tabuni mencium Sang Saka Merah Putih.
Mereka menunduk penuh hormat, mencium bendera itu seolah memohon maaf, memeluk kembali ibu pertiwi yang pernah mereka tinggalkan.
Waktu seolah berhenti. Isak tangis terdengar dari kerumunan. Seseorang berbisik pelan: "Mereka pulang..."
Acara ditutup dengan doa dari Pendeta Yas Murib, lalu dilanjutkan sesi foto bersama.
Semua pihak-TNI, Polri, tokoh adat, tokoh agama, keluarga, dan pemerintah-bersatu dalam satu bingkai foto, satu semangat: Membangun Papua damai dalam pelukan Merah Putih.
Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.