Jumat, 10 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Internasional

Dulu Teman Baik, Kini AS Menjelma Jadi Musuh Iran

Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, Amerika Serikat secara resmi melancarkan serangan militer ke Iran pada Minggu (22/6/2025).

Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
Kolase Tribun Jambi
PERANG -Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, Amerika Serikat secara resmi melancarkan serangan militer ke Iran pada Minggu (22/6/2025). 

TRIBUNJAMBI.COM -Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, Amerika Serikat secara resmi melancarkan serangan militer ke Iran pada Minggu (22/6/2025).

Tiga fasilitas nuklir utama Iran di Isfahan, Fordow, dan Natanz dilaporkan hancur lebur akibat bombardir yang diklaim Trump sebagai “serangan yang menghancurkan”.

“Kerusakan besar telah terjadi di semua lokasi nuklir Iran seperti yang ditunjukkan oleh citra satelit. Kehancuran adalah istilah yang akurat,” tulis Trump lewat platform Truth Social.

Langkah agresif ini menandai keterlibatan terbuka Amerika dalam konflik panas antara Iran dan Israel, menyulut kekhawatiran akan eskalasi perang di kawasan Timur Tengah.

 Namun bagi pengamat sejarah, serangan ini bukan sekadar perkembangan politik mutakhir. Ini adalah ironi panjang hubungan AS-Iran yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade  dari kawan menjadi lawan, dari rekan nuklir menjadi musuh bebuyutan.

Tak banyak yang ingat bahwa justru Amerika Serikat-lah yang pertama kali membantu Iran membangun program nuklirnya. Pada tahun 1957, di masa pemerintahan Presiden Dwight D. Eisenhower, AS menandatangani kesepakatan nuklir damai dengan Iran sebagai bagian dari program "Atoms for Peace".

Melalui perjanjian itu, AS menyediakan reaktor nuklir dan uranium bagi Iran yang saat itu dipimpin oleh Shah Mohammad Reza Pahlavi, sekutu kuat Washington di Timur Tengah.

Namun semuanya berubah drastis setelah Revolusi Islam 1979. Shah yang pro-Barat digulingkan dan digantikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang membawa ideologi anti-imperialisme dan mengusir pengaruh asing, terutama Amerika.

 Tak lama setelah revolusi, mahasiswa Iran menyerbu Kedutaan Besar AS di Teheran dan menyandera 52 warga Amerika selama lebih dari satu tahun. Hubungan diplomatik kedua negara pun terputus.

Sejak saat itu, Iran dan AS berada dalam lingkaran ketegangan yang tak pernah benar-benar mereda.

 Amerika menjatuhkan berbagai sanksi, menuduh Iran sebagai sponsor terorisme, dan menyebutnya bagian dari "Poros Kejahatan".

Sementara Iran menuduh AS sebagai biang kerusuhan di Timur Tengah, mendukung rezim-rezim otoriter, dan memusuhi dunia Islam.

Meski begitu, upaya diplomatik sempat membuahkan hasil.

 Pada 2015, di bawah Presiden Barack Obama, Iran dan enam negara besar dunia menandatangani kesepakatan nuklir (JCPOA) yang membatasi pengayaan uranium Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi internasional.

 Tetapi perjanjian itu runtuh ketika Donald Trump, dalam masa jabatan pertamanya, menarik AS keluar dari JCPOA pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi keras.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved