Pembunuhan di Rumah Kos Jambi

Dosen Psikologi Unja: Cemburu dan Stigma Jadi Pemicu Pembunuhan Pasangan Sesama Jenis di Jambi

Kasus dugaan pembunuhan yang melibatkan pasangan sesama jenis di Kota Jambi tengah menjadi sorotan publik.

Ist
Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Jambi, yang juga Dosen Psikologi Universitas Jambi, Dessy Pramudiani, S.Psi., M.Psi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Kasus dugaan pembunuhan yang melibatkan pasangan sesama jenis di Kota Jambi tengah menjadi sorotan publik.

Pelaku berinisial AFY (21) diduga menghabisi korban RH (23), yang diketahui telah menjalin hubungan dengannya selama hampir empat tahun.

Motif pembunuhan diduga dipicu oleh rasa cemburu setelah korban berencana menikahi seorang perempuan.

Pelaku nekat memasukkan zat beracun jenis sianida ke dalam minuman korban hingga menyebabkan kematian.

Menanggapi peristiwa tersebut, Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Jambi, yang juga Dosen Psikologi Universitas Jambi, Dessy Pramudiani, S.Psi., M.Psi., memandang bahwa kasus ini perlu ditelaah dari sisi psikologis, tanpa mengedepankan stigma.

"Hubungan romantis sejatinya adalah ruang untuk tumbuh bersama, berbagi kasih sayang, dan membangun kepercayaan. Namun dalam realitas yang tidak ideal, emosi seperti cemburu dapat berkembang menjadi racun—terutama jika dibarengi tekanan sosial dan stigma," ujarnya, Rabu (18/6/2025).

Dinamika Emosi dan Trauma yang Tak Terkelola

Dessy menjelaskan bahwa cemburu merupakan emosi wajar dalam sebuah hubungan.

Namun, pada individu dengan harga diri rendah, trauma masa lalu, atau gangguan kepribadian tertentu, emosi ini dapat berkembang menjadi obsesif dan destruktif.

"Beberapa faktor yang kerap muncul di balik tindakan ekstrem karena cemburu antara lain rasa kepemilikan berlebihan, ketakutan ditinggalkan (abandonment issues), dan distorsi berpikir seperti ‘kalau aku tidak bisa memilikinya, maka tak ada yang boleh’," jelasnya.

Ia juga menyoroti adanya kemungkinan gangguan pengendalian impuls yang membuat emosi meledak dalam bentuk tindakan kekerasan.

Hubungan Sesama Jenis dan Tekanan Sosial

Menurut Dessy, pasangan sesama jenis sering kali hidup dalam tekanan sosial yang tinggi, bahkan di lingkungan yang tampak terbuka.

Tekanan tersebut dapat memicu konflik internal maupun ketegangan dalam hubungan.

"Internalisasi stigma (internalized homophobia) membuat seseorang merasa bersalah atas orientasi seksualnya. Sering kali hubungan disembunyikan, sehingga ketika ada masalah, mereka tidak tahu harus ke mana mencari bantuan," paparnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved