Berita Jambi
Siklus Karhutla di Jambi Jadi Lebih Cepat, dari Lima Tahun Jadi Tiga Tahun
Berdasarkan analisis KKI Warsi, lembaga yang concern dalam isu lingkungan, siklus karhutla di Jambi kini menjadi tiga tahunan.
Penulis: tribunjambi | Editor: asto s
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Siklus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi semakin cepat.
Berdasarkan analisis KKI Warsi, lembaga yang concern dalam isu lingkungan, siklus karhutla di Jambi kini menjadi tiga tahunan.
Kondisi tersebut lebih cepat dibanding sekira tiga tahun terakhir, sejak 2023.
"Dulu siklusnya lima tahunan, sekarang bisa empat tahun atau bahkan lebih cepat," ujar Sukmareni, Koordinator Divisi Komunikasi KKI Warsi Jambi, saat di wawancarai pada Senin, (16/6/2025).
Dia mengatakan siklus menjadi lebih cepat karena ada perubahan iklim. Akibatnya karhutla menjadi lebih sering.
Sukmareni memaparkan Provinsi Jambi pernah mengalami karhutla besar pada 2015 dan 2019.
Catatan KKI Warsi, pada 2015 lahan yang terkena karhutla lebih dari 61 ribu hektare. Itu meliputi kawasan perkebunan sawit seluas 24.567 hektare dan wilayah PBPH (Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan) sebesar 36.903 hektare.
Empat tahun kemudian, pada 2019, karhutla kembali terjadi dalam skala besar. Di kawasan perkebunan sawit mencatatkan 21.102 hektare, dan di area Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) seluas 53.736 hektare.
Lokasi terdampak meliputi taman nasional, hutan lindung, kawasan restorasi, taman hutan raya, lahan masyarakat, hingga cagar alam.
Pada 2023, luas karhutla menurun drastis. Penyebabnya, tahun itu pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi sejak dini, termasuk penyewaan helikopter dan patroli intensif.
Kemudian, pada 2024, karhutla kembali terjadi di Jambi, meskipun dalam skala lebih kecil dibandingkan 2015 dan 2019.
Total luas kebakaran tahun tersebut mencapai 10.229 hektare. Lokasinya di Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
"Karhutla bukan hanya soal kemarau tinggi. Banyak faktor lain seperti kerusakan lahan gambut, kanal, dan pembukaan lahan dengan cara dibakar yang masih terjadi," kata Sukmareni, .
Dia menjelaskan, sebagian besar lahan yang terbakar berada di wilayah gambut yang telah mengalami degradasi.
"Akibat kanalisasi dan alih fungsi menjadi lahan pertanian atau perkebunan, air yang seharusnya tertahan dalam tanah, keluar menuju sungai-sungai utama. Ketika musim kemarau datang, gambut mengering dan sangat mudah terbakar," tuturnya.
Truk Solar Antri di SPBU Jambi, Pertamina Klaim Ketersediaan Biosolar Aman |
![]() |
---|
Berkat Gubernur Al Haris, Jambi Raih Pengampuan KJSU dari Kemenkes RI |
![]() |
---|
Sopir Truk Menginap di SPBU demi Dapat Solar di Jambi: Pak Haris, Tolong Bantu Kami |
![]() |
---|
Besok Partai Buruh Jambi Gelar Aksi Damai di Kantor Gubernur, Ini Tuntutannya |
![]() |
---|
Gubernur Al Haris Minta SPPG Gandeng Petani Jambi, Dorong Swasembada Pangan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.