Berita Viral
Pak Bray Posting Curhatan Pedagang Simpang Pulai Kota Jambi, Tag Wali Kota dan Wakil: Ada Solusi?
Media sosial ramai memperbincangkan unggahan Dirreskrimum Polda Jambi, Kombes Pol Manang Soebeti atau akrab disapa Pak Bray.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
TRIBUNJAMBI.COM - Media sosial ramai memperbincangkan unggahan Dirreskrimum Polda Jambi, Kombes Pol Manang Soebeti atau akrab disapa Pak Bray.
Dia memposting curahan hati (curhat) pedagang Pasar Simpang Pulai, Kota Jambi.
Unggahan tersebut viral setelah diunggah ke akun Instagram resminya, @manangsoebeti_official.
Postingan itu secara langsung menandai akun Wali Kota Jambi, Maulana, dan Wakil Wali Kota, Diza Aljosha Hazrin.
Dalam caption unggahannya, Pak Bray mempertanyakan kejelasan pihak yang bertanggung jawab atas masalah yang dialami para pedagang.
Sekaligus mendesak solusi dari Pemerintah Kota Jambi untuk segera mengambil langkah.
"Pak Wali Kota Jambi @doktermaulana.azim, Pak Wakil Wali Kota Jambi @aljoshadiza, bagusnya gimana ini pak? Apa ada solusi? Apakah masalah ini tugas Dinas Pasar atau Dinas Kebersihan atau tugas siapa?" tulisnya, disertai emoji sirene dan ekspresi heran.
Ia menambahkan dirinya akan terus menandai akun kedua pimpinan kota tersebut, sebagai bentuk dorongan agar persoalan tidak diabaikan.
Baca juga: Viral Pedagang di Simpang Pulai Kota Jambi Curhat ke Pak Bray Masalah Uang Sampah dan Keamanan
Baca juga: Viral Pesta Miras di Lapas Bukittinggi, 23 Napi Keracunan Minuman Kemasan Campur Alkohol 70 Persen
Unggahan itu menyertakan tangkapan layar isi pengaduan dari seorang perwakilan pedagang Pasar Simpang Pulai.
Dalam curhat yang ditulis via pesan tersebut, pedagang mengeluhkan adanya pungutan harian yang dirasa membebani dan tidak memberikan manfaat yang sebanding.
Berikut isi lengkap curhatan pedagang:
"Assalamualaikum pak. Saya perwakilan dari pedagang di Pasar Simpang Pulai. Ingin memberitahu, kalau di pasar Simpang Pulai ini ada dua penagihan yang masih berjalan sampai hari ini. Satu untuk Uang keamanan Rp5.000/hari, satu lagi uang kebersihan Rp5.000/hari.

Kalau hari-hari besar, Uang keamanan bisa diminta Rp10.000–Rp20.000 per meja, sedangkan uang kebersihan tetap Rp5.000 per meja.
Kami pedagang merasa keberatan, karena uang yang dipungut tidak sesuai dengan fungsinya.
Uang keamanan tidak ada fungsinya sama sekali pak. Kalau ada keributan antar pedagang, petugas keamanan pasar tidak berkontribusi, malah kami selalu minta bantuan polisi di Simpang Pulai.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.