News

Guru Rosalia Rerek Sogen Tewas Dituduh Mata-mata TNI oleh KKB Papua

Rosalia Rerek Sogen (30), seorang guru asal Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi korban penyerangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik...

Ist
ANUGERAHI: PGRI Flores Timur Anugerahi guru Rosalia Rerek Sogen sebagai pahlawan pendidikan. Dia merupakan korban kekejaman Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua atau KKB Papua. (ist) 

TRIBUNJAMBI.COM – Rosalia Rerek Sogen (30), seorang guru asal Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi korban penyerangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. 

Ia dituduh sebagai mata-mata TNI dan Polri oleh KKB Papua, tuduhan yang dibantah keras oleh berbagai pihak.

Melky Weruin, Sekretaris IKF NTT Papua, menegaskan bahwa Rosalia adalah seorang guru yang telah mengabdi di Distrik Anggruk sejak 2022. 

"Rosalia Sogen merupakan guru yang selama ini melaksanakan tugasnya di Distrik Anggruk. Ia bukan mata-mata TNI-Polri seperti yang dituduhkan oleh KKB," ujar Melky dalam konferensi pers pada Selasa (1/4/2025), di Abepura, Kota Jayapura.

Tuduhan tersebut muncul setelah beredarnya foto Rosalia mengenakan seragam loreng.

Melky menjelaskan bahwa foto itu diambil pada 2014 ketika Rosalia masih berstatus mahasiswa di Universitas Nusa Cendana, Kupang, dan terlibat dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Menwa. 

"Seragam loreng itu hanya seragam UKM Menwa, bukan seragam TNI," tegasnya.

Pernyataan Bupati Yahukimo
Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, juga membantah tuduhan tersebut.

"Rosalia dan enam guru lainnya, serta satu tenaga kesehatan di Distrik Anggruk, bukan mata-mata TNI-Polri. Mereka sudah bertugas sejak 2021 dan telah kami cek secara detail sebelum ditugaskan," kata Didimus, menambahkan bahwa para korban telah tinggal lama di daerah pedalaman dan tidak ada kaitannya dengan aparat keamanan.

Kronologi Penyerangan KKB Papua

Penyerangan terhadap guru dan tenaga kesehatan di Distrik Anggruk terjadi pada 21 Maret 2025, ketika lima guru dan seorang tenaga kesehatan mengalami luka serius. 

KKB Papua juga membakar rumah para korban. Serangan kedua terjadi pada 22 Maret 2025, saat para korban yang terluka dirawat di puskesmas. Pada serangan ini, Rosalia tewas setelah ditebas oleh anggota KKB Papua.

Matheus Mamun Sare, Ketua Bidang Hukum dan Advokasi IKF NTT Papua, mengungkapkan bahwa serangan kedua menunjukkan kekerasan brutal terhadap orang yang tidak berdosa.

"Rosalia sudah menjadi korban kekerasan yang sangat biadab," ungkap Matheus.

Rosalia sempat berbicara dengan sang kakak, Emanuel Suban Sogen, dua hari sebelum tewas dan merencanakan untuk pulang ke kampung halamannya di Flores Timur, NTT, pada Mei 2025.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved