Hamas dan Israel Genjata Senjata 6 Minggu, Warga Gaza Menangis Bahagia

Hamas dan Israel sepakat melakukan genjatan senjata mulai Minggu (19/1/2025). Kesepakatan tersebut menguraikan gencatan senjata awal selama enam mingg

Editor: Suci Rahayu PK
Ist
Tahanan Palestina (mengenakan jumper abu-abu) bersorak setelah dibebaskan dari fasilitas militer Ofer Israel di Baytunia dekat kota Ramallah di Tepi Barat yang diduduki dengan imbalan sandera yang dibebaskan oleh Hamas di Gaza, pada 24 November 2023. -- Warga Gaza menangis bahagia saat sambut gencatan senjata Israel-Hamas yang dimulai pada 19 Januari 2025. 

TRIBUNJAMBI.COM - Hamas dan Israel sepakat melakukan genjatan senjata mulai Minggu (19/1/2025).

Mengutip Reuters, Kamis (16/1/2025) kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok militan Hamas, yang menguasai Gaza, muncul pada hari Rabu (15/1/2025) setelah berbulan-bulan mediasi oleh Qatar, Mesir, dan AS serta 15 bulan pertumpahan darah yang menghancurkan wilayah pesisir dan mengobarkan amarah di Timur Tengah.

Kesepakatan tersebut menguraikan gencatan senjata awal selama enam minggu dengan penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Jalur Gaza. 

Rakyat Palestina di Gaza bergembira setelah kesepakatan gencatan senjata Hamas dan Israel tercapai di Doha, Qatar, Rabu (15/1/2025)
Rakyat Palestina di Gaza bergembira setelah kesepakatan gencatan senjata Hamas dan Israel tercapai di Doha, Qatar, Rabu (15/1/2025) (AP Photo/Abdel Kareem Han)

Para sandera yang ditawan oleh Hamas akan dibebaskan sebagai ganti tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel.

Genjatan senjata ini dirayakan rakyat Palestina.

Suasana kegembiraan mendominasi jalan-jalan Deir al-Balah di tengah Jalur Gaza dan Khan Yunis di selatan Jalur Gaza.

Orang-orang yang bersuka ria meneriakkan, “Kami adalah anak-anak Muhammad Deif,” mengacu pada panglima Brigade Martir Izz al-Din al-Qassam, sayap militer gerakan Hamas.

Sebagian meneteskan air mata kebahagiaan sementara yang lain bersiul, bertepuk tangan, dan meneriakkan "Allahu Akbar".

"Saya bahagia, ya, saya menangis, tetapi itu adalah air mata kebahagiaan," kata Ghada, seorang ibu lima anak yang mengungsi dari rumahnya di Kota Gaza.

"Kami seperti terlahir kembali, dengan setiap jam penundaan Israel melakukan pembantaian baru, saya harap semuanya segera berakhir sekarang," katanya kepada Reuters melalui aplikasi obrolan dari tempat penampungan di kota Deir al-Balah di Gaza tengah.

Baca juga: Titik Rawan Bencana Alam di Merangin Jambi, Banjir Longsor hingga Kebakaran

Baca juga: Hamas dan Israel Sepakat Genjatan Senjata

Iman Al-Qouqa, yang tinggal bersama keluarganya di tenda terdekat, masih tidak percaya.

"Ini adalah hari kebahagiaan, kesedihan, kejutan dan kegembiraan, tetapi tentu saja ini adalah hari di mana kita semua harus menangis dan menangis lama karena apa yang telah kita semua hilang," katanya kepada Reuters.

"Kita tidak hanya kehilangan teman, saudara, dan rumah, kita juga kehilangan kota kita, Israel mengirim kita kembali ke masa lalu karena perangnya yang brutal," lanjutnya.

"Sudah saatnya dunia kembali ke Gaza, fokus pada Gaza, dan membangunnya kembali," kata Qouqa.

Para pemuda menabuh rebana, meniup terompet, dan menari di jalan di Khan Younis di Jalur Gaza selatan, beberapa menit setelah mendengar berita tentang kesepakatan yang dicapai di ibu kota Qatar, Doha.

Halaman
12
Sumber: Kontan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved