LIPUTAN KHUSUS

Di Balik Konflik Gajah vs Manusia di Tebo, Dilema Kelestarian Satwa di Penyangga TN Bukit Tiga Puluh

Helmi, petani di Desa Semambu, menceritakan kejadian terbaru pada akhir Desember 2024. Ia berlari meminta bantuan warga setelah melihat seekor gajah

Penulis: Rifani Halim | Editor: Duanto AS
TRIBUN JAMBI/RIFANI HALIM
Helmi, petani di Desa Semambu, Kabupaten Tebo. 

Kasi Konservasi Wilayah III Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Farid, mengungkapkan populasi gajah di bentang alam TNBT diperkirakan mencapai 120-142 ekor, terbagi dalam lima kelompok.

Farid menyatakan bahwa konflik ini memerlukan sinergi dari berbagai pihak untuk menciptakan solusi jangka panjang.

Baca juga: Terdakwa Pembunuhan Gajah di Tebo Divonis 1 Tahun 4 Bulan Penjara, Nazori Bakal Rembuk Keluarga

"Pemakaian ruang yang sama antara gajah dan manusia memerlukan penataan ulang. Forum Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) sudah dibentuk untuk memfasilitasi langkah-langkah strategis, termasuk pengaturan ruang untuk gajah dan manusia,” jelas Farid.

Farid menambahkan salah satu solusi yang sedang dikaji adalah pembagian wilayah menjadi zona steril, zona waspada, dan zona abu-abu.

Hal ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan tata ruang di Kabupaten Tebo. 

Kematian Gajah dan Pemasangan Pagar Listrik

Selama 2024, tercatat tiga ekor gajah mati dan satu orang warga meninggal dunia akibat konflik ini. 

Kasi Konservasi Wilayah III Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Farid, mengatakan di beberapa kebun sawit dan karet, warga memasang pagar listrik untuk mencegah gajah masuk. 

Tanaman kelapa sawit yang diinjak gajah liar di kawasan penyangga
Tanaman kelapa sawit yang diinjak gajah liar di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Kabupaten Tebo.

Namun, Farid mengingatkan agar penggunaan pagar listrik dilakukan secara bijak.

"Pagar listrik harus ramah lingkungan dan tidak mematikan. Forum KEE akan membahas penataan pagar listrik agar sesuai dengan prinsip pelestarian satwa,” kata Farid.

Farid berharap kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perusahaan dapat meminimalkan konflik dan menciptakan harmoni antara manusia dan gajah di kawasan TNBT. (rifani halim)

Baca juga: Hidup-Mati Petani Karet di Kawasan Penyangga TN Bukit Tiga Puluh Tebo, di Antara Sawit dan Gajah

Baca juga: Kisah Siswa SDN 67 Muara Sekalo Tebo Mengenal Gajah dan Lestarikan Tanaman Endemik

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved