LIPUTAN KHUSUS

Di Balik Konflik Gajah vs Manusia di Tebo, Dilema Kelestarian Satwa di Penyangga TN Bukit Tiga Puluh

Helmi, petani di Desa Semambu, menceritakan kejadian terbaru pada akhir Desember 2024. Ia berlari meminta bantuan warga setelah melihat seekor gajah

Penulis: Rifani Halim | Editor: Duanto AS
TRIBUN JAMBI/RIFANI HALIM
Helmi, petani di Desa Semambu, Kabupaten Tebo. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Konflik antara manusia dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) terus terjadi di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT), tepatnya di Desa Semambu, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo.

Peristiwa itu dipicu gajah liar yang memasuki perkebunan dan memakan pohon sawit milik warga.

Helmi, petani di Desa Semambu, menceritakan kejadian terbaru pada akhir Desember 2024. 

Ia berlari meminta bantuan warga setelah melihat seekor gajah liar hanya berjarak 20 meter darinya saat memeriksa kebun.

“Aku datang ke kebun sore itu untuk mengecek tanaman. Tiba-tiba ada gajah sedang makan pucuk sawit muda. Saya langsung lari memanggil warga,” kata Helmi, sembari menunjukkan kebunnya yang rusak.

Kebun sawit muda milik Helmi, seluas satu hektare, hancur akibat dimakan dan diinjak-injak kawanan gajah yang dikenal warga dengan sebutan "Datuk Gedang".

Kerusakan Kebun dan Risiko Warga

Kerusakan serupa juga dialami banyak warga Desa Semambu

Kepala Desa Semambu, Toni, mengatakan kawanan gajah sering masuk ke desa, merusak tanaman sawit dan karet.

"Gajah sering masuk ke kebun warga, terutama saat mereka kekurangan makanan di hutan. Kadang mereka bahkan mendekati pasar desa dan masjid,” kata Toni.

Gajah sumatera di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, di Kabupaten Tebo.
Gajah sumatera di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, di Kabupaten Tebo.

Toni menjelaskan deforestasi di kawasan penyangga TNBT menjadi pemicu utama konflik satwa dengan manusia ini. 

Pembukaan lahan oleh perusahaan besar maupun masyarakat menyebabkan gajah kehilangan habitat dan stok makanan alami mereka.

“Kerusakan kebun pasti terjadi setiap kali gajah masuk. Tanaman sawit selalu jadi sasaran utama,” tambahnya.
Selain kerusakan material, keberadaan gajah liar juga mengancam keselamatan warga. 

Toni menyebut ada beberapa kasus warga desa tetangga yang meninggal akibat serangan gajah dalam dua tahun terakhir. 

Sisa 120-142 Ekor

Kasi Konservasi Wilayah III Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Farid, mengungkapkan populasi gajah di bentang alam TNBT diperkirakan mencapai 120-142 ekor, terbagi dalam lima kelompok.

Farid menyatakan bahwa konflik ini memerlukan sinergi dari berbagai pihak untuk menciptakan solusi jangka panjang.

Baca juga: Terdakwa Pembunuhan Gajah di Tebo Divonis 1 Tahun 4 Bulan Penjara, Nazori Bakal Rembuk Keluarga

"Pemakaian ruang yang sama antara gajah dan manusia memerlukan penataan ulang. Forum Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) sudah dibentuk untuk memfasilitasi langkah-langkah strategis, termasuk pengaturan ruang untuk gajah dan manusia,” jelas Farid.

Farid menambahkan salah satu solusi yang sedang dikaji adalah pembagian wilayah menjadi zona steril, zona waspada, dan zona abu-abu.

Hal ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan tata ruang di Kabupaten Tebo. 

Kematian Gajah dan Pemasangan Pagar Listrik

Selama 2024, tercatat tiga ekor gajah mati dan satu orang warga meninggal dunia akibat konflik ini. 

Kasi Konservasi Wilayah III Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Farid, mengatakan di beberapa kebun sawit dan karet, warga memasang pagar listrik untuk mencegah gajah masuk. 

Tanaman kelapa sawit yang diinjak gajah liar di kawasan penyangga
Tanaman kelapa sawit yang diinjak gajah liar di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Kabupaten Tebo.

Namun, Farid mengingatkan agar penggunaan pagar listrik dilakukan secara bijak.

"Pagar listrik harus ramah lingkungan dan tidak mematikan. Forum KEE akan membahas penataan pagar listrik agar sesuai dengan prinsip pelestarian satwa,” kata Farid.

Farid berharap kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perusahaan dapat meminimalkan konflik dan menciptakan harmoni antara manusia dan gajah di kawasan TNBT. (rifani halim)

Baca juga: Hidup-Mati Petani Karet di Kawasan Penyangga TN Bukit Tiga Puluh Tebo, di Antara Sawit dan Gajah

Baca juga: Kisah Siswa SDN 67 Muara Sekalo Tebo Mengenal Gajah dan Lestarikan Tanaman Endemik

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved