Berita Merangin

Sekda Merangin Apresiasi Film Dokumenter Budaya 'Jejak Nek Isah'

Sekda Merangin Fajarman mengapresiasi launching penayangan perdana film dokumenter 'Jejak Nek Isah' yang mengangkat cerita budaya lokal Kabupaten Mera

ist
Sekda Merangin Apresiasi Film Dokumenter Budaya 'Jejak Nek Isah' 

TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO- Sekda Merangin Fajarman mengapresiasi launching penayangan perdana film dokumenter 'Jejak Nek Isah' yang mengangkat cerita budaya lokal Kabupaten Merangin, bertempat di Gedung Serba Guna Kantor Bupati Merangin pada selasa malam (30/07), rabu (31/07) pagi.

Turut hadir dalam launching penayangan perdana film dokumenter itu, Gubernur Jambi Al Haris yang diwakili Asisten III Setda Provinsi Jambi Jangcik Mohza, Kadis Parpora Sukoso, Plt Kadis Dikbud Hennizor, Kabid LKI Diskominfo dan beberapa pejabat pemerintah Kabupaten Merangin.

Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Merangin mengatakan, film dokumenter 'Jejak Nek Isah' sang maestro 'Betauh Perentak' bertujuan untuk membangkitkan dan mempertahankan kesenian budaya Merangin, menampilkan eksistensi seni budaya dengan kearifan budaya lokal yang sangat kental.

"Jadi budaya 'Tari Betauh Perentak' ini sudah mendapatkan penghargaan warisan budaya takbenda dari Kemendikbudristek RI," kata Sekda Merangin Fajarman.

'Tradisi Betauh', Fajarman menjelaskan, sudah ada di desa Perentak Kecamatan Pangkalan Jambu sejak dahulu, tidak dapat diketahui pasti kapan mulai adanya 'Betauh' ini, akan tetapi tradisi 'Betauh' ini sudah dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Desa Perentak.

"Pada zamannya tradisi 'Betauh' ini dilakukan oleh kalangan muda mudi, karena pada saat pelaksanaan tradisi itulah terjalin suatu hubungan kasih sayang, selain sebagai hiburan, tradisi 'Betauh' juga bermakna ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta karena panen berhasil dengan baik," ujar Fajarman.

Biasanya, tambah Sekda Fajarman, tradisi 'Betauh' ini dilaksanakan pada malam hari di halaman, apabila desa setempat menyelenggarakan hajat pernikahan maupun setelah habis melaksanakan panen raya, 'Betauh' dibawakan oleh gadis dan bujang dibawah pengawasan 'Jenang dan Penatih' tradisi 'Betauh' juga termasuk untuk pergaulan bujang dan gadis, namun tetap diawasi tata krama dan etika mereka yang melakukan tradisi 'Betauh' itu.

"Busana yang digunakan dalam tradisi 'Betauh' itu adalah 'Baju Kurung' dan 'Kain Sarung Lipat Samping Sirih Serumpun' dan selendang penutup kepala (Tengkuluk Tegendeng), dalam penampilannya 'Betauh' di iringi alat musik yang terdiri dari 'gedok' (Gendang), 'gong', 'viul' dan vokal dengan lagu dendang sayang yang dibawakan secara bergantian secara berbalas pantun antara bujang dan gadis," jelas Fajarman.

Menurut Ibu Isah (87 th), kegiatan ini, mereka 'Bertauh' secara bergantian seorang demi seorang, baik bujang maupun gadis, gerakan tari yang mereka lakukan saling berhadapan sampai acara selesai.

"jadi bukan 'Betauh' secara bersama atau massal, tapi secara perorangan yang dilakukan bergantian dengan jumlah yang ingin ikut tidak dibatasi, tradisi 'Betauh' tidak dibatasi waktunya, namun tidak melebihi batas waktu sebelum shubuh," kata Ibu Isah.

Baca juga: Breaking News: Dinar Candy Jalani Pemeriksaan di Polda Jambi

Baca juga: Ganti Rugi SDN 212 Kota Jambi Menunggu Penerbitan Sertifikat dari BPN

Baca juga: Dandim 0419/Tanjab Tekankan Netralitas Prajurit di Pilkada Tanjabbar 2024

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved