Human Interest Story

Relief Naga di Sungai Batanghari, Datuk Lakukan Ritual Muwon Namo Memohon Hujan

Pemimpin Ritual Muwon Namo Festival Suku Batin IX, Datuk Raden Sulaiman, menuturkan untuk menggelar ritual Muwon Namo membutuhkan persiapan khusus

Penulis: Srituti Apriliani Putri | Editor: Duanto AS
TRIBUN JAMBI/SRITUTI APRILIANI
Masyarakat Desa Muaro Singoan menggelar ritual Muwon Namo untuk memanggil hujan, pada rangkaian kegiatan Kenduri Swarnabhumi Festival Suku Batin IX, Selasa (23/7). 

DI bidang tanah yang dipagari kain putih di pinggir Sungai Batanghari, terlihat minyak wangi, kemenyan, kapur sirih, dan kain hitam.

Itu yang terlihat menjelang ritual Muwon Namo untuk memanggil hujan, dilakukan masyarakat di Desa Muaro Singoan, Kabupaten Batanghari.

Masyarakat di Desa Muaro Singoan menggelar ritual Muwon Namo pada rangkaian kegiatan Kenduri Swarnabhumi Festival Suku Batin IX, Selasa (23/7).

Ini merupakan upaya menjaga tradisi dan memperkenalkan kembali kebudayaan di Kabupaten Batanghari.

Pemimpin Ritual Muwon Namo Festival Suku Batin IX, Datuk Raden Sulaiman, menuturkan untuk menggelar ritual Muwon Namo membutuhkan persiapan khusus.

Beberapa bahan yang harus disediakan antara lain seperti minyak wangi, kemenyan, kapur sirih, dan kain hitam.

"Persiapan ini penting untuk memastikan ritual berjalan dengan khidmat dan lancar," ujarnya.
Ritual Muwon Namo harus dilaksanakan di pinggir Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari, terutama saat musim kemarau.

"Dengan tujuan untuk meminta hujan agar pertanian dapat tumbuh subur," ujarnya.

Datuk Sulaiman mengatakan tradisi ini diwariskan turun-temurun secara lisan.

Asal usul ritual ini dimulai dari pasangan suami-istri Suku Batin IX yang tinggal di tengah hutan.

"Sang istri menemukan dua telur ular yang dibawa ke rumah dan tak sengaja dikonsumsi oleh suaminya. Seketika, sang suami merasakan panas pada tubuhnya. Dia lalu terus menerus meminum air hingga aliran air sekitar habis. Atas dasar itu, sang istri mengambil kuwali dapur (wadah memasak telur; red) sebagai media melaksanakan ritual memanggil hujan," jelasnya.

Ritual itu yang kemudian, kata Datuk Sulaiman, diyakini sebagai ritual yang dilakukan Raden Ontar.

"Raden Ontar ini anak dari Raden Nagosari yang merupakan keturunan Kerajaan Majapahit," lanjutnya.

Raden Ontar memiliki sembilan anak, bernama Singo Jayo, Singo Jago, Singo Pati, Singo Arum, Singo Besak, Singo Laut, Singo Delago, Singo Mangolok, dan Singo Ano.

Kesembilan sungai yang dikenal dalam cerita tersebut, antara lain Sungai di Jebak, Sungai di Desa Muaro Singoan, Sungai di Bahar, Sungai Serisak, Sungai Cikadas, Sungai Pemusiran, Sungai Burung Hantu, Sungai Muara Bulian, dan Sungai Muaro Singoan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved