Femalenial Jambi

Pengacara Muda Sausan Afifah Denadin yang Hidup dengan 'Menciptakan' Bukan 'Mengandalkan'

Sausan Afifah Denadin saat diwawancarai Tribun Jambi mengatakan menjadi seorang pengacara di usianya yang masih 25 tahun merupakan anugerah amat.

ist
Pengacara Muda Sausan Afifah Denadin 

Memang diakuinya, walau terlahir dari keluarga dengan disiplin tinggi. Sang ayah dan ibunya cukup suportif. Mereka mendidik Sausan bukan dengan cara otoriter.

Dia diberi kepercayaan penuh oleh orang tuanya untuk dapat menikmati hidup sesuai usianya. Sehingga itu yang membuat Sausan justru lebih menghargai setiap langkah hidup dan keputusannya.

Saatnya mulai masuk perkuliahan dengan suasana baru. Namun satu hal menarik dan masih diingatnya adalah, dia tahu dan paham tentang perkara-perkara serta hukum yang diberikan dosen dalam perkuliahan. Padahal kawan-kawannya baru mulai belajar.

Sausan tidak menyangka, perkataannya pun ditepati. Lulus lebih cepat dari teman kelasnya, karena mengejar ketertinggalan setelah memutuskan untuk berhenti pendidikan (gap year-red) selama setahun.

Saat lulus, Sausan mengikuti pendidikan kembali menjadi seorang pengacara (advokat-red). Tetapi lagi-lagi ia diberi jalan tak terduga saat proses hingga kelulusan.

"Tidak mudah karena dari segi finansialnya pun tidak sedikit. Tetapi mendekati tenggat waktu, ada saja rezekinya bisa terbayarkan. Semakin yakin, itu buah manis kebaikan orang tuaku yang aku bilang," katanya penuh yakin.

Jangan salah, bukan hanya hal manis seperti di film-film yang penuh keberuntungan. Sausan yang masih meneruskan kecintaannya pada dunia hukum memutuskan untuk tes ujian menjadi jaksa. Tetapi lagi-lagi untuk kedua kalinya hal tak seindah angan-angan sebagai orang yang berharap akhirnya terjadi. Sausan belum lolos menjadi jaksa.

Kesedihannya tergantikan dengan studi magister di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan dengan kegigihannya, dia berhasil diprioritaskan jadi lulusan cepat studi magister hukum saat itu.

"Jadi ada enam yang diprioritaskan dosen, termasuk aku. Dosen itu bilang, beliau bakal memprioritaskan mahasiswanya yang gigih dalam mempertahankan argumen berdasarkan tesis buatannya disertai dengan dasar hukum yang jelas," cerita Sausan.

Sausan tidak menyangka buah dari usahanya adalah ia lulus pendidikan magister hukum dalam satu tahun dua bulan yang biasa ditempuh setidaknya dua tahun.

"Jadi aku percaya keberuntungan itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi diciptakan oleh diri kita sendiri," kata dia.

Sausan yang selama ini sering terlibat dalam usaha ayahnya dalam menangani kasus, diam-diam semakin mengagumi ayahnya.

Dia heran tentang apa yang dilakukan ayahnya kepada klien-kliennya saat menangani kasus. Sang ayah yang baginya berhati malaikat itu tak jarang ditipu klien karena tak membayar jasa penyelesaian perkaranya.

"Ayah itu prinsipnya membantu. Kasus kalau bisa dipercepat selesainya, bukan diulur. Bagi ayah, berhasilnya ayah ketika kasus tidak naik ke persidangan. Itu rasanya bangga sekali. Jadi kadang ada kejadian orang sudah kehabisan uang, tetap dikerjakannya sampai selesai kasusnya. Habis itu ayah yang ditinggalin," tuturnya.

Ditambah lagi ia mendengar dengan telinganya sendiri, dan Sausan menyaksikan di depan matanya kalau klien ayahnya berterima kasih atas penyelesaian kasusnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved