WAWANCARA EKSKLUSIF

Panda Nababan: Kalau Jantan dan Satria, Ngomong, Politikus Senior PDIP Komentari Gibran-Bobby

Tidak, makanya, karena itu Ganjar datang ke rumahku, karena waktu itu sensitif kalau terbuka dengan Ganjar, seperti mendahuli Ibu, mengapakan Ibu...

Editor: Duanto AS
TRIBUNNEWS/REZA ARIEF
Politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Pandapotan Maruli Asi Nababan atau Panda Nababan (kiri) saat diwawancarai Wakil Direktur Pemberitaan Tribun Network, Domu D Ambarita (kanan), di Studio Newsroom Tribun Network, Jakarta, Senin (6/11). 

Pengalaman saya waktu kampanye Jokowi di Sumut, saya Ketua DPD PDIP Sumut, pada 2014 itu.

Saya bawa Jokowi ke Binjai, Langkat, saya bawa ke Deli Serdang, saya kenalkan dia di sana, saya bikin podium, pinjam aula sekolah, bawa dia saya bawa, itu kan saya mengenalkan dia.

Sampai orang mengerti 'oh ini Jokowi yang mau jadi presiden'.

Bisa bayangkan nggak, kemudian sekarang ngomong, sama dengan anaknya, Mas Gibran.

Nggak ada karpet merah, tidak ada pakai ini, partai-partai, tidak ada.

Kita semua kan karena rakyat.

Rakyat dan memilih, itulah demokrasi.

Kita pun terharu kan.

Ngapain juga dulu kita bawa-bawa ke Binjai, ngapain lagi.

Tapi kan semua ini, rakyat ada di bilik suara?

Bukan di bilik suara dia bilang, bahwa tidak ada cerita di partai, yang ada rakyat. Gitu loh.

Saya mau bilang, rakyat itu kan setelah di bilik suara, tapi sebelum di bilik suara kan di bawah partai toh?

Cuma, maksud aku, kalau sampai Gibran ngomong, tapi Jokowi ngomong, tidak ada urusan dengan endorsment, dukungan dari partai, karena apa, itu karena rakyat.

Rakyatlah yang memilih, rakyatlah yang menentukan, itulah demokrasi.

Coba bayangkan, apa itu pembodohan, manipulasi, apa mendiskreditkan, jutaan loh rakyat Indonesia yang ada di PDIP, disakiti hatinya begitu, direndah-rendahkan.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved