Perang Rusia Ukraina

Ukraina Hancurkan 23 Rudal Rusia, Menhan Sebut tak Ada Korban Jiwa

23 rudal dilaporkan ditembak jatuh militer Ukraina, Selasa (9/5) dini hari yang diketahui milik Rusia

Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
Ist
Perang antara Rusia dan Ukraina belum ada tanda-tanda berakhir dengan dikirimkannnya peralatan tempur ke medan perang. 

TRIBUNJAMBI.COM - Sebanyak 23 rudal dilaporkan ditembak jatuh militer Ukraina, Selasa (9/5) dini hari.

Serangan ini disampaikan secara resmi oleh Kementerian Pertahanan Ukraina.

"Pembela udara Ukraina menembak jatuh 23 dari 25 rudal yang diluncurkan!," tulis Kementerian Pertahanan Ukraina di Twitter, Selasa (9/5).

Pihak Ukraine merilis foto di Twitter, terlihat rudal jatuh di area pertanian.

Kepala Administrasi Militer Ukraina Sergey Popko memastikan tidak ada korban jiwa dalam serangan ini.

Serangan Rusia Kian Masif

Sejumlah tentara bayaran di Ukraina jadi sasaran bombardir Rusia.

Klain dari Kyev,  pesawat Su-34 telah menghancurkan para serdadu itu di Kharkiv pada Senin (8/5/2023).

Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia membenarkan serangan itu.

Sementara itu, di arah Kupyansk, pasukan Rusia telah menemukan dan menghancurkan dua kelompok pengintai sabotase Ukraina dan menggagalkan tiga upaya rotasi Ukraina.

Menggunakan kendaraan tempur dari sistem rudal anti-pesawat Osa juga dihancurkan menggunakan amunisi presisi Lancet di dekat desa Velykyi Burluk.

Tank Howitzer self-propelled Akatsiya juga jadi sasaran pasukan Rusia, dikutip dari Sputnik.

Sebelumnya terjaditerjadi di sebuah reservoir atau tempat penampungan minyak di Semenanjung Krimea setelah dihantam oleh sebuah drone.

Insiden ini dilaporkan Rusia pada Sabtu (29/4/2023), seperti laporan Associated Press.

Mikhail Razvozhayev, gubernur yang diangkat oleh Moskow untuk kota pelabuhan semenanjung Laut Hitam, Sevastopol, mengunggah video dan foto kebakaran tersebut di saluran Telegramnya.

Razvozhayev mengatakan kebakaran tersebut diberi peringkat tertinggi dalam hal seberapa sulitnya memadamkannya.

Dia tidak mengatakan apakah drone yang dia sebut sebagai penyebab kebakaran berasal dari Ukraina.

Rusia memasukkan Krimea ke wilayahnya dari Ukraina pada tahun 2014, suatu tindakan yang sebagian besar dunia anggap sebagai ilegal.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan negaranya berupaya merebut kembali semenanjung tersebut selama serangan skala penuh Rusia saat ini.

Insiden ini terjadi sehari setelah Rusia menembakkan lebih dari 20 rudal jelajah dan dua drone ke Ukraina, menewaskan setidaknya 23 orang.

Hampir semua korban meninggal ketika dua rudal menabrak gedung apartemen. Tiga anak termasuk di antara korban tewas.

Razvozhayev mengatakan kebakaran reservoir minyak tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dan tidak akan menghambat pasokan bahan bakar di Sevastopol.

Kota tersebut telah menjadi sasaran serangan drone secara teratur, terutama dalam beberapa minggu terakhir.

Minggu ini, Razvozhayev melaporkan bahwa militer Rusia menghancurkan sebuah drone laut Ukraina yang mencoba menyerang pelabuhan dan satu lagi meledak, merusak jendela beberapa gedung apartemen, tetapi tidak menimbulkan kerusakan lainnya.

Pejabat Ukraina tidak segera mengomentari kebakaran reservoir minyak di Krimea tersebut.

Setelah serangan sebelumnya di Krimea, Kiev biasanya tidak mengeklaim tanggung jawab secara terbuka tetapi menekankan bahwa negara tersebut punya hak untuk menyerang target mana pun sebagai respons terhadap agresi Rusia.

Artikel ini diolah dari Tribunnews.com

Baca juga: Serangan Rusia Lumpuhkan Tentara Bayaran di Ukraina, SU-34 Beraksi

Baca juga: 7 Perusahaan China Jual Peralatan Perang ke Rusia akan Disanksi Uni Eropa, Ini Daftarnya

Baca juga: Tanda Perang Rusia Ukraina Belum Berakhir, Putin Kirim Tank Tempur Y-14 ke Wilayah Zelensky

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved