Kasus Mutilasi

Ditangkap Karena Mutilasi Perempuan Jadi 65 Bagian, Kini Pelaku Ingin Minta Maaf Langsung ke Korban

Pelaku ingin minta maaf langsung ke keluarga korban pembunuhan dan mutilasi perempuan muda di Sleman, Yogyakarta.

Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Kolase Tribun Jambi/Ist
Pelaku ingin minta maaf langsung ke keluarga korban pembunuhan dan mutilasi perempuan muda di Sleman, Yogyakarta. 

Tanggapan tersebut disampaikan Pakar Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM ), Prof Koentjoro MBSc PhD.

Dia menjelaskan bahwa dunia pinjol tersebut sangat menyeramkan.

Hal itu karena kasus mutilasi di Sleman ternyata disebabkan oleh pelaku yang ingin menguasai harta korban.

Hal ini karena pelaku terlilit hutang pinjol hingga Rp 8 juta di tiga aplikasi.

Baca juga: Calon Suami Tak Tahu Calon Istri Jadi Korban Mutilasi Hingga 65 Bagian, Rencana Menikah Usai Lebaran

Dia melakukan pembunuhan lantaran tidak tahu harus mendapatkan uang dari mana agar bisa membayar cicilannya.

Prof Koentjoro menjelaskan bahwa keberadaan pinjol itu bisa menjadi momok yang begitu menakutkan bagi sebagian orang yang memang terlilit.

“Dunia pinjol itu menyeramkan. Dari kronologi yang saya baca, pelaku ini pada akhirnya memilih untuk membunuh perempuan itu, tiada iba, karena merasa ada ancaman yang lebih besar,” ujar Koentjoro kepada Tribun Jogja, Rabu (22/3/2023) malam.

Dia menekankan, ada perasaan ketakutan dari pelaku yang menyebabkan pikirannya kalut dan memutuskan untuk mengakhiri hidup korban yang ia temui di sebuah wisma di Kaliurang, Sleman .

“Bagi dia, nilai Rp 8 juta itu susah untuk dicari dan lebih besar risiko diancam oleh debt collector daripada risiko membunuh. Maka, dia merancang untuk membunuh dan menguasai hartanya,” tutur dia.

Meski terdengar sepele, tetapi Koentjoro tak bisa menafikkan ada saja orang yang menempuh segala cara untuk mendapatkan sejumlah harta agar tidak ditekan oleh penagih utang.

Terbukti, pelaku sudah merancang untuk membunuh korban dengan membawa sejumlah barang-barang yang tidak dibawa orang biasa ketika sedang bertemu orang lain, seperti pisau komando, cutter dan gorok.

“Pinjol itu harus ditertibkan betul, karena dunia pinjol itu hubungannya bukan si peminjam dengan perusahaan, tapi dengan debt collector dan itu bisa mengerikan bagi sebagian orang,” jelasnya.

RELASI KUASA

Koentjoro mengungkap, kasus mutilasi di Sleman itu menunjukkan adanya relasi kuasa yang timpang antara si pelaku dan korban.

Baca juga: Operasi Pasar Gas Melon Digelar H+10 Ramadan, Perindag Tanjabtim Usulkan 500 Tabung Per Kecamatan

Ia menduga, sebelum dibunuh, bisa saja korban diminta untuk membantu melunasi hutang pelaku.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved