Sidang Ferdy Sambo

Isi Lengkap Pledoi Ferdy Sambo: Setitik Harapan Dalam Ruang Sesak Pengadilan

Berikut isi lengkap pledoi yang dibacakan Ferdy Sambo, yang diberi judul setitik harapan dalam ruang sesak pengadilan

Penulis: Suang Sitanggang | Editor: Suang Sitanggang
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Ferdy Sambo pada sidang pembacaan nota pembelaan, di ruang sidang utama PN Jakarta Selatan, Selasa (24/1/2023) 

TRIBUNJAMBI.COM - Terdakwa Ferdy Sambo, yang dituntut hukuman seumur hidup, membacakan nota pembelaan di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (24/1/2023).  

Suami Putri Candrawati itu membacakan sendiri pledoi sebagai terdakwa pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat selama 34 menit. Setelahnya dilanjutkan dengan pledoi dari penasihat hukumnya.

Berikut isi lengkap pledoi yang dibacakan Ferdy Sambo, yang diberi judul setitik harapan dalam ruang sesak pengadilan:

Terima kasih yang mulia untuk kesempatan yang diberikan kepada saya Saya akan menyampaikan nota pembelaan sebagai terdakwa dalam perkara yang dilakukan di pengadilan negeri Jakarta Selatan ini

Saya membuat judul setitik harapan dalam ruang sesak pengadilan. Majelis hakim yang mulia, jaksa penuntut umum dan penasehat hukum yang terhormat.

Setelah berlangsungnya persidangan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya sampailah kesempatan bagi saya untuk menyampaikan pembelaan dalam perkara pidana ini.

Pada awal kesempatan ini perkenankan saya lebih dahulu menyampaikan puji dan syukur yang tidak terbatas atas kebesaran dan berkat Allah yang maha kuasa Tuhan yang maha pengasih atas perlindungan perawatan dan nafas kehidupan bagi saya istri dan anak-anak di masa sulit yang sedang kami hadapi saat ini.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada yang mulia majelis hakim, penasihat hukum dan jaksa penuntut umum yang dengan penuh kesabaran dan ketelitian telah memeriksa perkara ini semata-mata untuk menggali dan menemukan kebenaran materiil yang begitu penting untuk menentukan keputusan yang adil bagi semua pihak tidak terkecuali bagi saya selaku terdakwa.

Majelis hakim Yang Mulia, jaksa penuntut umum dan penasehat hukum yang terhormat.

Nota pembelaan ini awalnya hendak saya beri judul 'pembelaan yang sia-sia' karena di tengah hinaan, caci maki, olok-olok serta tekanan luar biasa dari semua pihak terhadap saya dan keluarga dalam menjalani pemeriksaan dan persidangan perkara ini acap kali membawa saya dalam keputus asaan dan rasa frustasi.

Berbagai tuduhan bahkan vonis telah dijatuhkan kepada saya sebelum adanya putusan majelis hakim.

Rasanya tidak ada ruang sedikit pun untuk menyampaikan pembelaan bahkan sepotong kata pun tidak pantas untuk didengar lagi dipertimbangkan dari seorang terdakwa seperti saya.

Selama 28 tahun Saya bekerja sebagai aparat penegak hukum dan menangani berbagai perkara kejahatan termasuk pembunuhan, belum pernah saya menyaksikan tekanan yang begitu besar terhadap seorang terdakwa sebagaimana yang saya alami hari ini.

Saya nyaris kehilangan hak sebagai seorang terdakwa untuk mendapatkan pemeriksaan yang objektif, dianggap telah bersalah sejak awal pemeriksaan dan aruslah dihukum berat tanpa perlu mempertimbangkan alasan apapun dari saya sebagai terdakwa.
Media framing dan produksi hoax terhadap saya sebagai terdakwa dan keluarga secara Intens terus dilancarkan sepanjang pemeriksaan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved