Editorial
Polri dan Tantangan Mengembalikan Kepercayaan Publik
Belum tuntas kasus pembunuhan Brigadir Yosua yang melibatkan jenderal yang juga bekas Kadiv Propam, Ferdy Sambo, kasus lain menyusul.
Institusi Kepolisian Republik Indonesia didera cobaan beruntun. Belum tuntas kasus pembunuhan Brigadir Yosua yang melibatkan jenderal yang juga bekas Kadiv Propam, Ferdy Sambo, kasus lain menyusul.
Ada kasus yang jadi sorotan utama terkait tragedi Stadion Kanjurahan di Malang, bagaimana tembakan gas air mata turut memperburuk suasana di stadion saat itu.
Lalu ada mantan Kapolda Sumbar yang seharusnya menjadi Kapolda Jawa Timur, Irjen Teddy Minahasa. Ia diduga menjual barang bukti narkotika.
Itu belum lagi, kasus-kasus di daerah yang melibatkan oknum-oknum polisi dalam tindak pidana. Tak perlu kita sebut satu per satu di sini.
Dan otomatis, serangkaian kasus itu meruntuhkan kepercayaan publik terhadap Polri. Kapolri Jenderal Listyo Sigit pun sudah mengakui hal ini.
Tengok saja hasil survei Litbang Kompas yang dirilis pada Kamis (27/10). Korps Bhayangkara yang harusnya mengayomi masyarakat justru mendapatkan tingkat penerimaan publik dengan tren negatif.
Dari survei Litbang Kompas pada Oktober 2021, citra negatif Polri sedianya hanya 18,5 persen. Lalu, naik 3,4 persen pada Januari 2022 menjadi 21,9 persen. Kemudian, meningkat lagi pada Juni 2022 menjadi 24,7 persen.
Peningkatan paling tajam lagi-lagi terjadi pada periode Juni-Oktober 2022.
Sejalan dengan itu, citra positif Polri dalam setahun terakhir terus merosot. Pada survei Oktober 2021, lembaga pimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo itu mendulang citra positif 77,5 persen. Lalu, sedikit turun pada Januari 2022 menjadi 74,8 persen.
Pada Juni 2022, citra Polri melorot cukup tajam hingga 9,1 persen dan berada di angka 65,7 persen. Penurunan paling drastis terjadi pada periode Juni-Oktober 2022. Dalam rentang waktu ini, citra positif institusi Bhayangkara anjlok 17,2 persen menjadi 48,5 persen.
Baca juga: TERUNGKAP Isi Doa Bharada E Saat Diperintah Ferdy Sambo Bunuh Brigadir Yosua Hutabarat
Baca juga: Ini Kesaksian Keluarga Brigadir Yosua di Sidang Pembunuhan Berencana Ferdy Sambo Cs
Menurut catatan Litbang Kompas, citra positif Polri pada Oktober 2022 mencapai titik terendah dalam dua tahun terakhir.
Tentu ini bukan sekadar angka tanpa makna. Angka tersebut merepresentasikan bagaimana publik kini memandang Polri, utamanya setelah kasus Sambo yang melibatkan begitu banyak personel kepolisian.
Kini tugas berat kepolisian dari hierarkir tertinggi hingga ke level paling bawah, bagaimana mengembalikan kepercayaan tersebut.
Baca juga: Perintah Berdarah Ferdy Sambo
Percaya adalah sebuah sikap sadar yang dimiliki seseorang atas dasar preferensi yang ia punya dan fakta yang terjadi. Maka ketika ada pihak tidak mempercayai pihak lain, tentu ada sesuatu yang meruntuhkan kepercayaan tersebut.
Melaksankan tugas kepolisian secara benar, itulah yang harus dilakukan Polri. Tentu itu dilakukan atas dasar tanggung jawab dan profesionalitas.
Jadi, bekerja benar bukan untuk meraih kepercayaan publik yang telah tergerus. Sebab kalau hanya meningkatkan kepercayaan publik yang menjadi niat atu motivasi, tentu ini bisa jadi tidak berasal dari hati dan ikhlas.
Kita, masyarakat mendukung institusi Polri yang bersih, jujur, berintegritas. Dan kita percaya masih banyak polisi-polisi yang baik di dalam sana.
Semoga saja, apa yang terjadi belakangan menjadi batu loncatan agar Polri menjadi lebih baik. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/irjen-ferdy-sambo.jpg)