Perang Rusia Ukraina
Neraka di Kherson, Serfangan Balasan Ukraina Tewaskan 450 Pasukan Rusia
Pasukan Ukraina terus mengepung tentara Rusia yang masih berada di wilayah Kherson.
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
TRIBUNJAMBI.COM - Pasukan Ukraina terus mengepung tentara Rusia yang masih berada di wilayah Kherson.
Tercatat 1.200 pasukan Ukraina jadi korban di Kherson dalam peperangan dengan Rusia.
Sementara Rusia dilaporkan kehilangan 450 orang tentaranya di Kherson.
Hingga Jumat (2/9/2022) diperkirakan tentara Rusia yang tewas oleh pasukan Ukraina telah melebihi 50.000.
Militer Ukraina melaporkan pada Kamis (1/9/2022) tentara Rusia yang telah tewas mencapai 48.350 tewas dan terluka akibat perang tersebut.
Dari pemberitaan sejumlah media sebanyak 80.000 prajurit Rusia tewas.
Tentara Volodymyr Zelensky juga menyebut 1.997 tank, 4.345 Kendaraan bersenjata, 1.115 artileri, 287 Sistem peluncur roket, 234 Pesawat tempur, 153 Sistem pertahanan Udara, 296 Helikopter, 851 drone, 205 helikopter, 196 misil dari kapal, 15 kapal perang dan 3.239 kendaraan perang.
Sementara dari kubu Ukraina sendiri, Rusia tidak mengumumkan jumlah pastinya, Kementerin Pertahanan Rusia hanya menyebutkan demiliterisasi di Ukraina telah merontokkan 280 pesawat tempur, 151helikopter, 1.852 drone, 371 sistem rudaal anti pesawat dan 4.663 tank.
Dilema Tentara Rusia
Dilema tentara Rusia hanya memiliki dua pilihan, dipenjara atau berperang melawan Ukraina.
Tentara Rusia yang menolak berperang melawan Ukraina akan menghadapi resiko dipenjara.
Resiko dipenjara harus dihadapi tentara Rusia yang menolak perang dengan Ukraina.
Hal ini terjadi pada prajurit Brigade Serangan Udara Pengawal ke-11, sebuah unit militer dari Republik Siberia Buryatia.
Brigade yang ditempatkan di Ukraina sejak invasi Rusia mengajukan pengunduran diri mereka awal bulan ini. Namun permintaan tersebut mendapat perlawanan dari otoritas militer Rusia.
“Awalnya ada 78 (penentang), tetapi setelah beberapa putaran pemaksaan, komando militer berhasil mengurangi jumlah itu,” kata salah satu pendiri organisasi anti-perang Free Buryati Foundation, Vladimir Budaev, yang dikutip dari The Moscow Time, Minggu (24/7/2022).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Pasukan-Ukraina-00p.jpg)