Kota Jambi, Sudah Layak Hunikah?

Pada 2021, jumlah penduduk berumur 15 tahun keatas di Kota Jambi yang menganggur sebanyak 31.375 jiwa atau 33,47 persen

Editor: Rahimin
istimewa
Jumlah penduduk miskin di Kota Jambi tahun 2021 sebesar 54,23 ribu jiwa atau 9,02 persen Penduduk Kota Jambi. 

Berdasarakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS tahun 2021, wanita berumur 15–49 tahun yang pernah kawin dan melahirkan hidup dalam dua tahun terakhir, tahun 2020–2021 di Kota Jambi, telah 100 persen dilakukan di tenaga kesehatan baik itu dokter, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya.

Tidak ada yang melahirkan di dukun atau sejenisnya. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan telah terjangkau dan bisa dinikmati di seluruh wilayah Kota Jambi.

2021, tidak ada penduduk Kota Jambi yang mempunyai keluhan kesehatan selama sebulan terakhir telah yang tidak berobat jalan karena tidak punya biaya berobat, tidak ada biaya transportasi, tidak ada sarana transportasi, waktu tunggu lama, atau tidak ada yang mendampingi.

Berdasarkan data Survei tersebut juga, 100 persen rumah tangga di Kota Jambi telah menggunakan sumber penerangan listrik, yg terdiri dari 99,84 persen menggunakan listrik PLN dan sisanya lintrik Non-PLN.

Selain itu, 100 persen rumah tangga di Kota Jambi sudah menggunakan fasilitis buang air besar baik sendiri, bersama, atau MCK umum.

Tidak ada yang sembarangan buang kotoran karena tidak memiliki fasilitas atau tidak ada fasilitas MCK.

Sebanyak 93,22 persen rumah tangga di Kota Jambi telah memiliki akses terhadap sanitasi yang layak dan 95,83 persen rumahtangga di Kota Jambi telah memiliki akses memiliki akses terhadap sumber air minum layak.

Setiap kota memiliki permasalahan masing-masing. Walaupun jika diperhatikan, permasalahan umum yang mendera kota-kota besar di Tanah Air hampir serupa, dengan kadar yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Warga kota sudah semakin gerah dan merana. Udara semakin panas, banjir kian kerap melanda, kemacetan lalu lintas, tumpukan sampah, defisit infrastruktur, gangguan keamanan, tingkat kriminalitas yang semakin bertambah, minimnya layanan kesehatan, sukarnya akses pendidikan dan ketesediaan lapangan pekerjaan.

Tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan adalah masalah lainnya, yang semakin mengimpit warga kota.

Kota Layak Huni

Kota menawarkan secercah asa karena kota berada pada garis terdepan yang memiliki peran kunci dalam membalikkan situasi pascapandemi.

Peran transformatif dapat dimainkan kota karena kota adalah sebuah narasi yang dapat memberikan banyak inspirasi bagi warganya untuk mau melakukan aksi memperbaiki atau memulihkan diri.

Dorongan utama untuk datang ke kota mengejar kesejahteraan kehidupan yang lebih baik akan terus berlanjut. Pemerintah memiliki kesempatan memanfaatkan proses transformatif urbanisasi menuju kota layak huni untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan berkeadilan sosial.

World Cities Report 2020: The Value of Sustainable Urbanization (UN Habitat, 2020) melaporkan, kota yang direncanakan, dirancang, dibangun, dikelola, dan didanai dengan baik dapat menciptakan nilai ekonomi, sosial, lingkungan, dan tata kelola perkotaan yang mampu bertahan terhadap bencana alam (banjir, gempa, badai, tsunami, kebakaran, kekeringan) dan nonalam (pandemi, kerusuhan sosial).

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved