Mendukung Komitmen Presidensi G20, Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jambi Kian Inklusif

Pertumbuhan ekonomi dikatakan inklusif jika mampu menurunkan angka kemiskinan serta menurunkan angka pengangguran

Editor: Rahimin
Istimewa
Kanto Badan Pusat Statistik 

Mendukung Komitmen Presidensi G20, Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jambi Kian Inklusif

Oleh : Rapita Handayani, SST., M.S.E.

Fungsional pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Tebo

TRIBUNJAMBI.CON - Saat pidato serah terima presidensi (kepemimpinan) G20 di Roma tahun lalu, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa presidensi Indonesia pada G20 akan mendorong pemulihan ekonomi dunia melalui tema besar “Recover Together, Recover Stronger”.

”Kepemimpinan Indonesia di G20 berkomitmen pada upaya mendorong pertumbuhan yang inklusif, people-centered, serta ramah lingkungan dan berkelanjutan.” (Presiden Joko Widodo, pada sesi Penutupan KTT G20 di Roma, Italia, 31 Oktober 2021)

Lalu, apa yang dimaksud pertumbuhan ekonomi yang inklusif? Pertumbuhan ekonomi dikatakan inklusif jika mampu menurunkan angka kemiskinan, mengecilkan jurang ketimpangan distribusi pendapatan, serta menurunkan angka pengangguran. Banyak negara yang terjebak dalam ekonomi eksklusif, yaitu keinginan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi utamanya dengan memacu pertumbuhan ekonomi pada sektor-sektor sekunder (industri pengolahan dan konstruksi) dan sektor-sektor tersier (sektor perdagangan, penyedia akomodasi, dan makan minum, transportasi, keuangan, dan jasa-jasa lainnya).

Di Indonesia, sebagai negara agraris, sektor sekunder dan tersier memang memberikan kontribusi yang tinggi dalam pertumbuhan ekonomi tetapi dalam penyerapan tenaga kerja tidak sebesar sektor primer (sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, serta pertambangan dan penggalian). Disisi lain, sektor primer kurang mendapatkan perhatian padahal sektor tersebut banyak menjadi andalan penyerapan tenaga kerja. Hal ini mengakibatkan membesarnya jurang ketimpangan pendapatan antar penduduk.

Bagaimana dengan perekonomian Provinsi Jambi? Di tengah ketidakpastian ekonomi global, laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi sebelum pandemi Covid-19 berhasil tumbuh di kisaran 4-7 persen (2014-2019). Pertumbuhan ekonomi ini semakin bersifat inklusif. Hal itu ditunjukkan oleh inflasi yang pada 2014 mencapai ± 8 persen, berangsur ditekan hingga di 2019 berkisar 1-2 persen.

Sementara itu, kesenjangan pendapatan dapat dipersempit berdasarkan data rasio gini yang turun dari 0,329 pada tahun 2014 ke level 0,321 pada 2019. Tingkat kemiskinan juga turun dari 7,92 persen pada 2014 menjadi 7,6 persen pada 2019. Adapun tingkat pengangguran terus menurun, dari 5,08 persen pada 2014 menjadi 4,06 persen pada 2019.

Terlihat bahwa semua indikator agregat perekonomian Provinsi Jambi berada di jalur pertumbuhan inklusif tersebut. Hingga akhirnya, pandemi Covid-19 memporak-porandakan sejumlah indikator tersebut. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi 2020 terkontraksi minus 0,44 persen, bersamaan dengan jatuhnya perekonomian di seluruh belahan dunia.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved