Autopsi Ulang Brigadir Yosua
Johnson Panjaitan Kuasa Hukum Keluarga Brigadir Yosua Ungkap 3 Permintaan pada Polisi
Kuasa hukum keluarga Brigadir Yosua turut serta mendampingi keluarga selama proses autopsi ulang jenazah berlangsung.
Penulis: Wira Dani Damanik | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kuasa hukum keluarga Brigadir Yosua turut serta mendampingi keluarga selama proses autopsi ulang jenazah berlangsung.
Johnson Panjaitan, salah satu kuasa hukum mengungkap permintaannya pasca dimasukkan laporan kasus kematian Brigadir Yosua.
"Setelah kami memasuki laporan, kami meminta 3 hal. Yang pertama adalah pembokaran sekaligus autopsi, yang kedua visum et repertum, yang ketiga adalah pra rekonstruksi," ungkap Johnson, Kamis (28/7/2022).
Lebih lanjut ia menyinggung soal sikap humanis Polri.
"Dan ada poin yang penting, dan kami juga meminta karena polisi selalu ngomong humanis-humanis. Humanis kan bukan untuk orang luar. Untuk keluarganya sendiri, dalam hal ini Brigadir J yang polisi itu bagaimana," ujarnya.
Baca juga: Johnson Panjaitan Sebut Autopsi Ulang Brigadir Yosua Menjawab Keraguan Autopsi Sebelumnya
Dia juga bilang autopsi ulang digelar untuk menjawab keraguan atas autopsi yang dilakukan sebelumnya.
Permohonan melaksanakannya disampaikan oleh keluarga Brigadir Yosua Hutabarat melalui kuasa hukumnya.
Pelaksanaan autopsi ulang ini melibatkan dokter forensik dari yang ditunjuk oleh Polri dan juga tim independen.
Di antara dokter forensik tersebut ada yang berasal dari Persatuan Dokter Forensik Indonesia, dan juga dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat.
Diberitakan sebelumnya, Brigadir Yosua Hutabarat meninggal dunia pada Jumat (8/7/2022) sore.
Keterangan polisi, Yosua tewas dalam baku tembak dengan Bharada E di rumah Irjen Pol Ferdy Sambo.
Motif baku tembak, polisi mengatakan berawal dari aksi Brigadir Yosua Hutabarat yang masuk ke kamar pribadi Ferdy Sambo.
Baca juga: Vera Simanjuntak Pacar Brigadir Yosua Mundur dari Pekerjaan, Johnson: Dia Tertekan
Di dalam kamar itu ada istri Ferdy. Yosua disebut polisi melakukan pelecehan dan penodongan senjata.
Kemudian ada teriakan istri Sambo, hingga akhirnya Bharada E turun memeriksa ke arah sumber teriakan.