Wabah Cacar Monyet

IDI Minta Nakes Waspadai Gejala Cacar Monyet Saat Tangani Pasien di RS

Ketua Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) mengatakan,

Editor: Fifi Suryani
Laman resmi WHO/CDC Public Health Image Library
Perbedaan Cacar Monyet Monkeypox dan cacar air 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Ketua Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) mengatakan, pemahaman yang baik terhadap infeksi Monkeypox atau cacar monyet dan kewaspadaan dini terhadap Kejadian Luar Biasa(KLB) atau outbreak menjadi modal utama dalam aspek pencegahan.  Upaya untuk menghindari kontak dengan pasien yang diduga terinfeksi lanjut Agus, merupakan kunci pencegahan yang dinilai paling efektif pada saat outbreak.

Serta diiringi dengan upaya surveilans dan deteksi dini kasus aktif guna melakukan karantina untuk mencegah penyebaran yang lebih luas."Tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat yang menemukan gejala cacar monyet pada pasien agar segera melakukan tindak lanjut dengan tes PCR (Polymerase Chain Reaction). Segera melaporkan ke Dinas Kesehatan Setempat agar bisa segera dilakukan surveilans dan tindakan lebih lanjut lainnya." kata dia melalui pesan tertulisnya, Rabu (27/7).

Ditambahkan Pengurus pusat PETRI (Perhimpunan Kedokteran Tropis dan Penyakit Infeksi Indonesia) dr. Adityo Susilo, SpPD, KPTI, FINASIM, penyakit cacar monyet yang bersifat zoonosis memiliki penularan utamanya melalui kontak manusia dengan darah, cairan tubuh, atau lesi pada mukosa maupun kulit hewan yang terinfeksi.  Di Afrika, kasus infeksi cacar monyet pada manusia yang pernah dilaporkan, berhubungan dengan riwayat kontak dengan hewan yang terinfeksi seperti monyet, tupai, tikus dan rodents lainnya.

Memakan daging hewan terinfeksi yang tidak dimasak dengan matang juga dikatakan dapat menjadi metode penularan yang lainnya. “Adapun penularan antar manusia, diduga dapat terjadi sebagai akibat dari kontak erat dengan pasien yang terinfeksi secara langsung (direct close contact) melalui paparan terhadap sekresi saluran napas yang terinfeksi, kontak dengan lesi kulit pasien secara langsung, maupun berkontak dengan objek yang telah tercemar oleh cairan tubuh pasien," kata dr. Adityo Susilo.

Selain itu, transmisi secara vertikal dari ibu ke janin melalui plasental (infeksi Cacar Monyet kongenital) juga dimungkinkan. Periode inkubasi cacar monyet berkisar antara 5-21 hari dengan rerata 6-16 hari. Setelah melewati fase inkubasi, pasien akan mengalami gejala klinis berupa demam tinggi dengan nyeri kepala hebat, limfadenopati, nyeri punggung, nyeri otot dan rasa lemah yang prominen.

Dalam 1-3 hari setelah demam muncul, pasien akan mendapati bercak-bercak pada kulit, dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh. Bercak tersebut terutama akan ditemukan pada wajah, telapak tangan dan telapak kaki.

Seiring waktu bercak akan berubah menjadi lesi kulit makulopapuler, vesikel dan pustule yang dalam 10 hari akan berubah menjadi koreng. "Hingga saat ini masih belum ada pengobatan yang spesifik untuk infeksi cacar monyet ini," kata dia.

dr. Adityo Susilo, SpPD, KPTI, FINASIM juga menerangkan, hingga saat ini masih belum ada pengobatan yang spesifik untuk infeksi Cacar Monyet.  Meski demikian di masa lalu, vaksinasi terhadap penyakit Cacar atau Smallpox yang disebabkan oleh karena infeksi virus Variola yang dinyatakan telah tereradikasi secara global sejak tahun 1980, dikatakan dapat memberikan efektivitas proteksi sebesar 85 persen untuk mencegah infeksi Cacar Monyet.  "Masyarakat juga perlu mewaspadai terhadap kemungkinan masuknya virus ini di Indonesia," kata dia.

Dokter Adityo mengatakan, dengan ditemukannya kasus cacar monyet di Singapura, menjadi pengingat pada populasi khusus yang berisiko fatalitas lebih tinggi pada kelompok anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan imunitas rendah (imunosupresi). "Tapi dengan berkaca kepada pandemi Covid-19, kita harus selalu optimis bahwa dengan bekerja sama dunia akan mampu bergerak secara cepat menyikapi situasi ini," ujar anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) ini.

Diketahui, pekan ini Badan Kesehatan Dunia WHO telah menetapkan status darurat untuk kasus Monkeypox atau cacar monyet. Meski masih belum terdeteksi di Indonesia, namun kasus Monkey Pox sudah ditemukan di Singapura.

Sejak Mei 2022, Monkeypox menjadi penyakit yang menjadi perhatian kesehatan masyarakat global, karena dilaporkan dari negara non endemis.  Sejak tanggal 13 Mei 2022, WHO telah menerima laporan kasus-kasus Monkeypox yang berasal dari negara non endemis, dan saat ini telah meluas secara global dengan total 75 negara.

Hingga 25 Juli 2022 terdapat 18.905 kasus konfirmasi monkeypox di seluruh dunia, dengan 17.852 kasus terjadi di negara tanpa riwayat kasus konfirmasi sebelumnya. Amerika Serikat melaporkan kasus monkeypox sebesar 3846 kasus. Di ASEAN, Singapura telah melaporkan 9 kasus konfirmasi dan Thailand melaporkan 1 kasus konfirmasi.

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved