Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Keadilan dan Kasih Allah
Bacaan ayat: Keluaran 34:20 (TB) Tetapi anak yang lahir terdahulu dari keledai haruslah kautebus dengan seekor domba; jika tidak kautebus, haruslah ka
Keadilan dan Kasih Allah
Bacaan ayat: Keluaran 34:20 (TB) Tetapi anak yang lahir terdahulu dari keledai haruslah kautebus dengan seekor domba; jika tidak kautebus, haruslah kaupatahkan batang lehernya. Setiap yang sulung dari antara anak-anakmu haruslah kautebus, dan janganlah orang menghadap ke hadirat-Ku dengan tangan hampa.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Ada pertanyaan yang mengusik kemanusiaan kita ketika menyaksikan film The Passion: Mengapa Yesus (harus) mati di kayu salib? Tidakkah Ia mempunyai kuasa untuk turun dari salib tersebut dan menghajar orang-orang yang menyalibkannya?
Atau tidak bisakah Ia langsung saja mengampuni dan tidak perlu melalui jalan penyaliban yang sangat menyedihkan?
Pertanyaan ini bukan untuk pertama kalinya mengusik nurani manusia.
Petrus, saat pertama mendengar perkataan Yesus yang menyatakan bahwa Anak Manusia akan menderita, diolok-olok, dihina, ditangkap disalibkan dan bangkit pada hari ketiga; Petrus orang pertama yang menolak.
Dalam semangat spiritual yang menyala ia sempat merespon dengan berkata, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Memang terasa tidak masuk di akal jika harus ada penderitaan dalam karya penyelamatan. Jika memang Allah Mahakuasa, bukankah Ia bisa langsung mengampuni, tanpa harus melalui jalan penderitaan?
Keberatan ini wajar terlintas dalam pikiran banyak orang. Dunia modern telah memposisikan manusia sebagai ciptaan yang mulia. Setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan kehidupan yang baik di bumi.
Rasa kemanusiaan telah menghantarkan manusia pada penilaian bahwa kekejaman menjadi hal yang harus ditiadakan dalam hidup. Bukankah hidup dalam kasih itu lebih baik, dari pada hidup dalam perang dan pertikaian?
Rasa kemanusiaan telah cukup untuk membangun kebaikan dalam hidup. Jika ada nilai lain yang terhubung dengan kekerasan dan kekejaman mencoba menggesernya, tentu akan dianggap merendahkan martabat nya sebagai manusia yang mulia dalam kehidupan.
Konsep penebusan, nampaknya telah tersemai sejak manusia jatuh dalam dosa. Cawat dari daun pohon ara tidak bisa menutupi ketelanjangan manusia; diperlukan kulit binatang agar dapat menutupi ketelanjangan tersebut.
Mezbah menjadi tempat dilakukannya korban bakaran sebagai tanda untuk bisa berdamai dengan Allah. Konsep penebusan semakin kuat saat peristiwa pembebasan umat Israel dari perbudakan di Mesir.
Tulah kesepuluh, dimana anak sulung akan mati; sementara bagi bangsa Israel tidak mengalami anak sulung mati karena menyembelih domba dan darahnya dioleskan pada tiang pintu.
Malaikat maut lewat ketika melihat darah tersebut. Gema dari penebusan tersebut terpatri dalam aturan yang disampaikan turun temurun, bahwa setiap anak sulung harus ditebus agar terus hidup.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/18112020_feri-nugroho.jpg)