Santriwati Korban Pemerkosaan Guru Pesantren di Bandung Lahirkan Anak Kedua, Begini Kondisinya

Seorang santriwati korban pemerkosaan Herry Wirawan (36) seorang guru pesantren di Kota Bandung, Jawa Barat lahirkan anak kedua pada November 2021.

Grafis Tribunwow/Kurnia Aji Setyawan
Ilustrasi-Anak korban rudapaksa guru di pesantren Bandung melahirkan anak kedua. 

TRIBUNJAMBI.COM, GARUT – Seorang santriwati yang jadi korban pemerkosaan Herry Wirawan (36) seorang guru pesantren di Kota Bandung, Jawa Barat, melahirkan anak keduanya pada November 2021.

Saat melahirkan bayi keduanya, santriwati tersebut baru berusia 14 tahun. Sementara anak pertamanya masih berusia 2,5 tahun, perempuan.

Hal itu dikatakan oleh Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Garut, Diah Kurniasari Gunawan.

"Saya nengok ke sana (rumahnya), menawarkan (bantuan) kalau enggak sanggup merawat, ternyata mereka tidak ingin dipisahkan anaknya, dua-duanya perempuan," ujar Diah.

P2TP2A Garut, lanjut Diah,  menawarkan berbagai solusi kepada anak-anak dan orangtuanya terkait posisi anak yang dilahirkan tersebut.

Baca juga: Guru Pesantren di Bandung Paksa 12 Santriwati Layani Nafsunya, Korban Dua Kali Melahirkan Bayi

Bahkan, jika para orang tua dan santriwati tersebut tidak sanggup mengurusnya, P2TP2A siap menerima anak tersebut. Terlebih kondisi korban dan keluarganya bukan orang yang tergolong mampu.

Mereka kebanyakan adalah buruh harian lepas, pedagang kecil, dan petani yang tadinya merasa mendapat keuntungan anaknya bisa masuk pesantren sambil sekolah gratis.

"Alhamdulillah, yang rasanya mereka (awalnya) tidak terima, namanya juga bayi, cucu darah daging mereka, akhirnya mereka rawat, walau saya menawarkan kalau ada yang tidak sanggup, saya siap membantu," kata Diah.

Baca juga: Korban Rudapaksa Guru Pesantren di Bandung Berusia 13-15 Tahun, 8 Anak Sudah Melahirkan Bayi

Katanya, 11 dari belasan korban perkosaan Herry Wirawan tersebut masih memiliki hubungan keluarga dan bertetangga, dan mereka berasal dari Garut, Jawa Barat.

Rasa kecewa, marah, dan perasaaan lain yang berkecamuk di dalam diri orang tua para santri, lanjut Diah, dapat dirasakan olehnya.

Terlebih Diah melihat laangsung momen pertemuan yang pilu antara orang tua dan anak-anaknya tersebut.

Peristiwa pilu itu terjadi saat dirinya mengawal pertemuan para orangtua dengan anak-anaknya di kantor P2TP2A Bandung, setelah dibawa keluar dari lingkungan pondok pesantren oleh penyidik Polda Jabar.

Anak-anak yang tengah menuntut ilmu di pesantren ternyata telah memiliki anak setelah dicabuli guru ngajinya yang mereka percayai sebelumnya.

"Rasanya bagi mereka mungkin dunia ini kiamat, ada seorang bapak yang disodorkan anak usia 4 bulan oleh anaknya, enggak, semuanya nangis," kata Diah.

Baca juga: Guru Ponpes di Bandung yang Rudapaksa 12 Santriwati Diduga Pakai Dana Bantuan untuk Sewa Apartemen

Kondisi yang sama, menurut, Diah juga terjadi di kantor P2TP2A Garut saat para orangtua yang tidak tahu anaknya menjadi korban pencabulan guru ngajinya diberi tahu kasus yang menimpa anaknya sebelum akhirnya mereka dipertemukan pertama kali di kantor P2TP2A Bandung sebelum dibawa ke P2TP2A Garut.

Menurut Diah, selain berat menerima kenyataan anaknya jadi korban, para orang tua juga kebingungan membayangkan masa depan anak-anaknya dan lingkungan tempat tinggal anak yang dikhawatirkan tidak bisa menerima.

"Di kecamatan ini (lingkungan rumah korban), saya sampai datang beberapa kali nengok yang lahiran, ngurus sekolahnya, ketemu tokoh masyarakatnya," ujarnya.

Berita ini telah tayang di Kompas.tv

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved