Minggu, 26 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Renungan Kristen

Renungan Harian Kristen - Hidup Bersama dalam Kerukunan

Bacaan ayat: Mazmur 133:1 (TB) Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun

Editor: Suci Rahayu PK
Instagram
Ilustrasi persahabatan 

Hidup Bersama dalam Kerukunan

Bacaan ayat: Mazmur 133:1 (TB) Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!

Oleh Pdt Feri Nugroho

Pdt Feri Nugroho
Pdt Feri Nugroho (Instagram @ferinugroho77)

Rukun dapat dipahami sebagai baik dan damai. Para orang tua selalu menasihati anak-anaknya untuk hidup rukun, apalagi ketika orang tua telah tiada.

Alasanya, karena mereka terikat dalam persaudaraan. Orang bilang, darah itu lebih kental dari air.

Hubungan darah seharusnya lebih kuat untuk berdamai jika dibandingkan dengan hubungan-hubungan yang lain.

Sebuah ironi jika ditemukan justru perseteruan antar anggota keluarga justru bertahan lebih lama jika dibandingkan dengan perseteruan antar sesama.

Memprihatinkan jika ada orang tua yang memusuhi anaknya, atau anak yang membenci orang tuanya, kakak terhadap adiknya, atau sebaliknya.

Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang telah percaya kepada Yesus pun tidak mampu membebaskan diri dari persoalan perseteruan.

Sejarah gereja dengan jujur merekam banyak peristiwa penting yang bersimbah darah dan perpecahan; padahal Hukum Kasih tidak pernah absen untuk diwartakan setiap kali ada kesempatan.

Mengapa bisa demikian? Adakah penyelesaiannya?

Paling tidak kita perlu memahami, penyebab terjadinya perseteruan, untuk membuat strategi terbaik menyelesaikannya.

Perseteruan pertama terjadi ketika manusia memilih tidak taat kepada Allah. Manusia memilih untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai standar yang dalam pemandangannya, benar.

Manusia mengalihkan fokus hidup, dari fokus kepada Allah dengan taat dan beralih pada diri sendiri, yang berkaitan dengan hal-hal yang menarik hati.

Persekutuan pun berubah menjadi perseteruan. Pola tersebut menjadi warisan abadi dalam sejarah manusia.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved