Kisah Pedagang Bendera dari Garut 17 Tahun Jualan di Sarolangun, Susah di Masa Pandemi
Pedagang bendera merah putih musiman dari Garut, Jawa Barat, selalu muncul jelang hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Penulis: Rifani Halim | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN - Pedagang bendera merah putih musiman dari Garut, Jawa Barat, selalu muncul jelang hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Seperti yang terlihat di jalan lintas Sumatera Sarolangun ini.
Tetapi di masa pandemi Covid-19 saat ini, mereka mengaku mengalami banyak kesulitan, mulai dari keberangkatan dari kota asal, hingga menurunnya penjualan.
Kang Jajang (51), pria asal Garut Jawa barat ini, berangkat dari tanggal 31 Juli lalu mengunakan bus, membawa lima karung berisi bendera merah putih, umbul- umbul dan berbagai macam jenis bendera.
Tahun 2021 menjadi tahun ke 17 ia berdagang bendera di kabupaten Sarolangun. Jajang sengaja berjualan di Sarolangun, menurutnya dagangannya kerap laris sebelum adanya pendemi.
"Asal saya dari Garut sengaja jualan ke sini setiap bulan Juli sampai Agustus. saya kos di sini untuk berdagang bendera, hanya satu bulan di Sarolangun terus pulang lagi ke Garut," kata kang Jajang saat di temui Tribun Jambi, di jalan lintas Sumatera Sarolangun, Minggu (8/8/2021).
Sejak pandemi, penjualan terjun bebas. Dia membandingkan pada tahun lalu, perhari ia bisa mendapatkan uang dalam perhari Rp 400.000 hingga Rp 500.000.
"Kalau tahun ini Rp.100.000 hingga Rp 150.000, kalau pembeli pasti ada cuma berkurang drastis," kata dia.
Saat ini pembeli hanya memilih yang lebih murah, bendera dengan ukuran sedang yang di bandrol dengan harga Rp 30.000 dan umbul-umbul dengan harga yang sama dengan bendera.
"Kalau jenis yang lain tentu permintaan makin berkurang," ujarnya.
Dari lima karung bendera merah putih serta umbul-umbul dan berbagai macam jenis bendera, masih tersisa tiga karung lagi.
Kang Jang bersama beberapa rekan pedagang bendera merah putih dari Garut Jabbar, menginap di indekos di sekitar Pelayang Sarolangun. Itu tempat biasa ia ngekos saat berdagang di Sarolangun.
Tak sedikit tantangan mereka hadapi selama berjualan di Sarolangun. Dua tahun lalu, ia sempat pindah- pindah lokasi berjualan kerena dilarang Satpol-PP.
"Sempat pindah ke mana - mana, sempat dekat tong sampah bauk. sampai akhirnya ada wartawan wawancara saya kenapa jualan jauh, saya bilang karena tidak dibolehkan oleh Satpol-PP. Saya minta ketemu sama bupati, kata wartawan itu dia aja yang ngomong dan akhirnya diperbolehkan jualan di pinggir jalan ini."
Baca juga: Layanan Vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Pakuan Baru Terpaksa Numpang di SD 188, Ini Sebabanya
Baca juga: Segera Diresmikan, Puskesmas Bungku Dilengkapi Ruang Isolasi Pansien Covid-19
Baca juga: Namanya Tersohor di Tanjab Timur, Kondisi Makam Datuk Geragai Justru Memprihatinkan
"Sempat juga ketemu sama kepala Satpol-PP dan akhirnya diperbolehkan karena saya kan jualan musiman," cerita Jajang yang sempat dilarang berjualan di trotoar jalan lintas Sumatera Sarolangun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/penjual-bendera-di-sarolagun-1.jpg)