Kasus Covid Tinggi, GP Ansor Desak Pemerintah Merangin Beli Alat Tes Swab PCR
Gerakan Pemuda Ansor Merangin mendesak Pemerintah Kabupaten Merangin untuk membeli alat tes PCR.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO - Gerakan Pemuda Ansor Merangin mendesak Pemerintah Kabupaten Merangin untuk membeli alat tes PCR.
Menurut ketua GP Ansor Merangin, Muhlisin, alat tersebut sangat penting untuk penanganan pandemi Covid-19 di Merangin.
Kata Muhlisin, dengan adanya alat Polymerase Chain Reaction (PCR), sebaran Covid-19 akan lelbih cepat diketahui.
Sebab selama ini pasien yang aktif tes antigen harus menunggu lama untuk mendapatkan hasil tes swab PCR.
"Termasuk isolasi pasien. Siapa yang akan diisolasi? Masa orang yang belum pasti covid diisolasi. Hanya berdasarkan dari hasil test antigen. Solusinya ya itu, harus ada alat PCR sendiri," ujar Ketua PC GP Ansor Merangin, Muhlisin, Sabtu (7/8/2021).
Dengan adanya alat PCR, sebaran kasus corona di Merangin akan lebih mudah diketahui.
"Ini juga penting sebagai ukuran kinerja daerah menangani Covid-19. Pemkab mungkin sudah bekerja keras, tapi tanpa alat ukur yang jelas dan akurat, angka riilnya pasti tidak akurat," tambahnya.
GP Ansor Merangin minta pemkab tidak ragu membeli alat PCR, karena menyangkut keselamatan masyarakat.
Sementara itu Berman Saragih, selaku Direktur RSD Kolonel Abunjani Bangko mengakui jika rumah sakit belum memiliki alat tersebut.
"Belum ada (mesin PCR red)," singkatnya.
Baca juga: Perjalanan Udara Semakin Mudah dengan Aplikasi Peduli Lindungi
Baca juga: Viral Video 22 Detik, Universitas Muhammadiyah Jambi Angkat Bicara Tentang Ini
Untuk diketahui PCR tersebut merupakan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri atau virus.
Sebelumnya, pemerintah daerah Kabupaten Merangin telah memutuskan Rumah Susun Sewa dijadikan sebagai tempat Isolasi Mandiri.
Plt Bupati Merangin, Mashuri menyampaikan bahwa keputusan itu diambil bersama unsur Forkopimda guna melakukan pengawasan lebih ketat ke pasien Covid-19.
"Kita putuskan menggunakan Rusunawa sebagai tempat isolasi mandiri. Sehingga bisa lebih mudah untuk mengawasinya," ujarnya. (Tribunjambi.com/ Darwin Sijabat)