Breaking News:

Masalah Jaringan Jadi Kendala Anak di Geragai Belajar Daring

Sejak corona, pembelajaran tatap muka antara guru dan murid diganti dengan pembelajaran secara daring, namun banyak yang terkendala jaringan.

Penulis: Abdullah Usman | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Abdullah Usman
SDN 94 di Dusun Geragai, Desa Lagan Ulu, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. 

Laporan wartawan tribunjambi.com, Abdullah Usman 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Dunia pendidikan mengalami perubahan sejak adanya pandemi Covid-19.

Pembelajaran tatap muka antara guru dan murid diganti dengan pembelajaran secara daring, namun beberapa sekolah di Kabupaten Tanjung Jabung Timur masih terbentur soal jaringan

Dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh antara guru dan siswa, dengan memanfaatkan jaringan internet terkadang memunculkan masalah tersendiri bagi tenaga pengajar dan peserta didik yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan jaringan internet. 

Seperti yang dialami para siswa dan guru di SDN 94 Dusun Geragai. Selain persoalan jaringan yang kurang baik banyak orangtua tidak mampu membelikan anak-anak mereka gawai sebagai sarana pembelajaran jarak jauh.

Sariman Kepala SDN 94 di Dusun Geragai, Desa Lagan Ulu, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur mengungkapkan, lokasi tempat ia mengajar terpencil dan jauh dari jalan raya. 

Lokasi sekolah tersebut berjarak sekitar 6 Kilometer dari jalan utama Kecamatan Geragai dengan akses jalan berbatu dan berlubang melewati perkebunan kelapa sawit. Jaringan internet yang minim menjadi kendala untuk melaksanakan KBM secara daring.

"Sudah kami survei ada 30 persen siswa kami yang memiliki hp android. Sisanya kami mengantisipasi hal tersebut dengan meminta siswa untuk datang ke sekolah untuk menjemput soal," jelasnya, Jumat (6/8).

Sariman mengungkapkan, saat ini ia beserta 6 orang tenaga pendidik lainya memanfaatkan jaringan internet dengan kecepatan ala kadarnya dan perangkat laptop pribadi. Untuk total keseluruhan siswa yang berada di sekolah tersebut hanya berjumlah 26 orang.

Baca juga: Kadus Geragai: Kami Sudah Merasakan Merdeka Hanya Keadilan Sosial yang Belum Kami Rasakan

Baca juga: Puluhan Tahun Tidak Teraliri Listrik, Warga Geragai Minta Gubernur Jambi dan Bupati Buka Mata

Baca juga: 102 Atlet Jambi akan Berangkat September, Pelatih Targetkan Ini di PON XX Papua 

"Untuk persoalan listrik, kami menggunakan genset. Komputer tidak ada, bawa laptop masing-masing," lanjutnya.

Sebelum adanya pandemi Covid-19, akses internet dibutuhkan untuk mengirim data seperti DAPODIK yang dilakukan secara online, akan tetapi semenjak adanya pandemi akses internet semakin dibutuhkan untuk bisa melaksanakan pembelajaran secara daring.

"Ya berharap pemerintah setempat bisa membantu dan menyelesaikan hal ini. Listrik dan jaringan internet sangat dibutuhkan," pungkasnya. (usn) 

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved