Breaking News:

Puluhan Tahun Tidak Teraliri Listrik, Warga Geragai Minta Gubernur Jambi dan Bupati Buka Mata

Jelang 76 tahun kemerdekaan Indonesia, beberapa wilayah di Tanjabtim masih belum teraliri jaringan listrik, infrastruktur dan juga jaringan seluler.

Penulis: Abdullah Usman | Editor: Teguh Suprayitno
Ilustrasi 

Laporan wartawan tribunjambi.com, Abdullah Usman 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Jelang 76 tahun kemerdekaan Indonesia, beberapa wilayah di Tanjabtim masih belum teraliri jaringan listrik, infrastruktur dan juga jaringan seluler, Kamis (5/8/2021).

Seperti wilayah Dusun Geragai, Desa Lagan Ulu Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Sejak Dusun tersebut berdiri dan terbuka akses jalan, hingga saat ini belum pernah teraliri listrik

Sedikitnya terdapat 3 Rt terdiri dari 80 KK yang mendiami Dusun Geragai yang menjadi Dusun tuo di kawasan Geragai tersebut. Selain miris akan kondisi infrastruktur, kondisi fasilitas umum pun tak kalah memprihatinkan. 

Pantauan tribunjambi.com di lapangan, Dusun Geragai yang berada di tengah tengah antara beberapa Kecamatan dan Desa di Geragai tersebut, sejatinya berada dekat dengan pusat ibukota. Hanya saja sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan semak belukar, jalan terjal berdebu dan tidak satupun tiang listrik tertancap di dusun tersebut. 

Dikatakan Syarifuddin (40), satu dari warga asli Dusun Geragai menuturkan, dirinya sejak kecil sudah laris sejak Dusun Geragai ini masih berupa perkampungan kecil.

Namun sayang di zaman yang melek teknologi seperti saat ini, warga Dusun geragai masih belum bisa merasakan kemajuan teknologi tersebut. 

"Dari zaman nenek moyang dari nol belum pernah Dusun kami ini tersentuh akan aliran listrik pemerintah. Untuk menyiasati penerangan pada malam hari warga memiliki cara tersendiri tergantung kantong mereka," ujarnya.

Dikatakannya pula, bagi warga yang memiliki uang lebih mereka menggunakan mesin jenset untuk penerangan di malam hari. Bagi warga yang kurang mampu biasa hanya menggunakan lampu colok seadanya. 

"Untuk jenset sendiri permalam warga harus menghabiskan biaya untuk membeli satu liter minyak, untuk kurun waktu dari pukul 18-21, " ujarnya.

Baca juga: Kejari Tebo Pantau Proyek Pembangunan RSUD STS Tebo Senilai Rp36 Miliar

Baca juga: Pengakuan Gadis 16 Tahun Rela Dibawa Kabur ke Sumbar Lalu Nikah Siri dengan Pacar 

"Terkadang kita merasa iri dan sedih, ketika kita keluar kampung dan melihat kampung tetangga sudah gemerlap akan keindahan kota. Sedangkan kita yang berada di sekitar kota belum merasakan itu dan harus mandi  debu dan lumpur untuk keluar Dusun, " tuturnya dengan raut sedih. 

Dirinya dan warga Dusun Geragai sendiri berharap, adanya perhatian sedikit saja dari Pemerintah setempat untuk Dusun mereka. Mengingat kondisi seperti ini sangat memprihatinkan bagi generasi anak anak kedepannya, dimana anak anak lain sudah beranjak berdampingan dengan teknologi namun warga kami masih berjibaku dengan debu dan lumpur. 

"Kami minta Pemerintah untuk dibukakan mata mereka, mulai dari Gubernur, Bupati, Camat hingga Desa tolong lah diperhatikan kami ini. Agar sesuai dengan nama Geragai yang tenar sekarang bahwa disinilah asal mula Geragai itu dan ada tokoh geragai yang terkubur di sini, " pungkasnya. (usn)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved