Breaking News:

Virus Corona

Disebut Lebih Ganas dan Serang Anak Muda, Inilah Gejala yang Dialami Penderita Covid-19 Varian Delta

Varian delta ini awalnya ditemukan di India dan hingga kini sudah mulai menyebar ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia.

Editor: Leonardus Yoga Wijanarko
ist
ilustrasi pencegahan virus corona atau Covid-19 

Padahal, dengan adanya mutasi, varian delta memiliki kecenderungan perburukan lebih cepat.

"Sehingga masyarakat usia muda yang datang banyak yang langsung dengan gejala berat. Ini yang kita khawatirkan. Jika demikian kondisinya, potensi kesembuhan makin kecil," tegas Daeng.

Covid-19 Varian Delta Disebut Punya Gejala Berbeda, Apa Saja?

Penelitian telah menunjukkan bahwa varian ini lebih menular daripada varian lainnya.

Menurut para ilmuwan, data menunjukkan varian delta sekitar 60 persen lebih mudah menular daripada varian alpha yang sebelumnya ditemukan di Inggris.

Membuat mereka yang terinfeksi varian ini lebih mungkin dirawat inap, seperti yang terlihat di beberapa negara termasuk Inggris.

Tak hanya itu, gejala yang ditimbulkan oleh varian delta ini disebut memiliki perbedaan dengan gejala dari virus SARS-CoV-2 lain yang kita ketahui.

Selama pandemi, otoritas kesehatan di seluruh dunia sering mengingatkan bahwa beberapa gejala utama Covid-19 adalah demam, batuk terus-menerus, serta kehilangan rasa atau penciuman.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) kemudian memperbarui daftar gejala antara lain kelelahan, nyeri otot, diare, dan sebagainya.

Namun, para ahli kesehatan mengungkapkan bahwa varian delta tampaknya menimbulkan berbagai gejala yang berbeda.

Seorang profesor epidemiologi genetik dari King's College London, Tim Spector kemudian menggagas studi ZOE Covid Symptom yang berbasis di Inggris.

Studi tersebut memungkinkan masyarakat untuk memasukkan gejala Covid-19 mereka pada sebuah aplikasi agar para peneliti dapat menganalisanya.

"Kami melihat gejala teratas dari pengguna aplikasi sejak awal Mei dan kebanyakan gejala tidak sama seperti sebelumnya," kata Spector.

"Gejala utamanya adalah sakit kepala, yang diikuti dengan sakit tenggorokan, pilek, dan demam."

Menurutnya, gejala Covid-19 yang sebelumnya dianggap sering terjadi seperti batuk dan kehilangan penciuman justru lebih jarang terjadi pada orang yang terinfeksi varian delta.

Sementara pada pasien yang lebih muda, gejala Covid-19 yang paling dominan adalah pilek atau perasaan tidak enak badan.

Menjadi perhatian seluruh dunia

Varian delta sedang menjadi perhatian di seluruh dunia karena varian ini dapat dengan mudah menyebar dan menyebabkan kasus yang lebih parah jika dibandingkan dengan varian lain, termasuk varian B.1.1.7 (alpha).

Mantan komisaris Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), Dr Scott Gottlieb mengatakan bahwa varian delta kemungkinan akan menjadi strain dominan di AS dan dapat meningkatkan epidemi baru selama musim gugur.

Sementara itu, di Inggris, kasus Covid-19 varian delta melonjak terutama di kalangan anak muda, khususnya yang tidak divaksinasi, sehingga menyebabkan peningkatan rawat inap pada kelompok tersebut.

Penyebaran varian delta juga mendorong pemerintah Inggris untuk menunda pelonggaran pembatasan Covid-19.

Diharapkan program vaksinasi Covid-19 yang sedang berlangsung dapat menghentikan penyebaran varian delta dan melindungi lebih banyak kalangan anak muda serta masyarakat secara keseluruhan.

Vaksin yang saat ini ada diharapkan masih mampu melawan varian tersebut.

Diberitakan Kompas.com, Sabtu (19/6/2021), untuk di AS sendiri, misalnya, vaksin mRNA (Pfizer-BioNTech dan Moderna) memiliki efektivitas sekitar 88 persen.

Sementaara Johnson & Johnson dan AstraZeneca disebut memiliki efektivitas 60 persen dalam melawan varian baru.

148 kasus varian Delta

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tirmizi, menyebut hingga hari ini sudah ditemukan 148 kasus infeksi varian Delta di Indonesia.

"Sudah ada 148 kasus yang kita temukan di 6 propinsi dan sebagian besar adalah transmisi lokal," kata Nadia saat dihubungi Kompas.com, Jumat (18/6/2021).

Jumlah tersebut baru untuk infeksi varian Delta, belum Varian Alpha dan Beta yang juga sudah sejak beberapa waktu lalu terdeteksi di Tanah Air.

Dari 6 provinsi tersebut, Jawa Tengah disebut menyumbang kasus tertinggi.

"(Jumlah itu) Delta saja, di DKI, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah," jabar Nadia.

Sebaran varian Alpa, Beta, dan Delta

Berdasarkan data per 13 Juni 2021, berikut ini adalah sebaran kasus infeksi Covid-19 varian Alpha, Beta, dan Delta yang ditemukan di Indonesia:

1. Varian Alpha

- Kepulauan Riau: 1 kasus

- Sumatera Utara: 2 kasus

- Sumatera Selatan: 1 kasus

- Riau: 1 kasus

- DKI Jakarta: 24 kasus

- Jawa Tengah: 1 kasus

- Jawa Barat: 2 kasus

- Jawa Timur: 2 kasus

- Bali: 1 kasus

- Kalimantan Selatan: 1 kasus

2. Varian Beta

- DKI Jakarta: 4 kasus

- Jawa Timur: 1 kasus

3. Varian Delta

- Sumatera Selatan: 3 kasus

- DKI Jakata: 20 kasus

- Jawa Tengah: 75 kasus

- Kalimantan Tengah: 3 kasus

- Kalimantan Timur: 3 kasus.

(*)

SUMBER: Kompas.com

Baca juga: Andika Perkasa Disorot Karena Belum Lapor Kekayaan Sejak Jadi KSAD hingga Kirim Utusan ke KPK

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved