Rocky Gerung Rela Mandi Minyak hingga Tidur di Kotoran Hewan Demi Bertahan Hidup di Gunung Himalaya
Sebelum Covid-19, Rocky Gerung mengaku ia sedang berada di Gunung Himalaya ketinggian 6000, suhunya mencapai -20 derajat.
"Gimana jadi dosen? Orang jadi dosen itu kan, syaratnya harus S2. (Jadi) Pecat gimana? Itu hoax," kata Rektor UI, Prof. Muhammad Annis.
Karena itu, ia mengharapkan, tidak ada yang mengkaitkan antara UI dengan Rocky Gerung.
Meski demikian, UI tetap mengakui Rocky merupakan salah satu alumni.
"Ya enggak lah (dosen). Alumni UI, ya jelas, Kapan pun dia alumni," ujar.
* Aktivis Sejak Zaman Orde Baru
Saat Pilkada DKI Jakarta berlangsung pada tahun 2017 lalu, Rocky pernah mendapat surat terbuka dari perancang desain sepatu Niluh Djelantik.
Di surat yang ditulis di Facebook itu Niluh mengungkapkan kekecewaannya terhadap Rocky dan beberapa aktivis lain, karena membiarkan kampanye bernuansa sektarian terjadi.
Padahal, Niluh dan Rocky merupakan aktivis satu generasi sejak zaman Orde Baru, yang memperjuangkan nilai-nilai sama, yakni Hak Asasi Manusia (HAM), non-diskriminasi, non-sektarianisme, antikekerasan, sensitif gender, serta tata pemerintahan yang baik.
Namun kini, para aktivis itu sudah memihak pada kelompok tertentu.
* Kritis Terhadap Pemerintahan Jokowi
Selama ini, Rocky sering berkomentar kritis terhadap Presiden Joko Widodo.
Rocky pernah menyebut tangan dan otak Jokowi tidak sinkron saat Presiden mengungkapkan pendapatnya, tentang pidato Prabowo, tuduhan PKI, dan hal bernuansa SARA lainnya.
Namun, Rocky kemudian menghapus kicauan itu.
Perjalanan Hidup Rocky
Mengutip wikipedia, Rocky berkuliah di Universitas Indonesia pada 1979.
Ia pertama kali masuk ke jurusan ilmu politik, yang saat itu tergabung dalam fakultas ilmu-ilmu sosial, sebelum memutuskan pindah ke jurusan ilmu filsafat dan lulus pada 1986.
Saat berkuliah, Rocky dekat dengan aktivis berhaluan kiri, seperti Marsillam Simanjuntak, Hariman Siregar, dan lain-lain.
Setelah lulus, Rocky Gerung kembali ke UI dan mengajar di departemen ilmu filsafat, hingga awal 2015.
Rocky berhenti mengajar lantaran keluarnya UU No. 14 tahun 2005 yang mensyaratkan seorang dosen harus minimal bergelar magister.
Rocky hanya menyandang gelar sarjana.
Bersama tokoh-tokoh, seperti Abdurrahman Wahid dan Azyumardi Azra, Rocky merupakan ikut mendirikan Institut Setara, sebuah wadah pemikir di bidang demokrasi dan hak asasi manusia, pada 2005.