Breaking News:

Berita Sarolangun

Rencana Pemerintah Kenakan Pajak untuk Sembako, Begini Tanggapan Pedagang Pasar di Sarolangun

Walaupun jenis sembako yang dikenakan PPN nantinya hanya bahan sembako bagi golongan ekonomi atas, tetap akan terdampak pada para pedagang sembako.

Penulis: Rifani Halim | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Tribunjambi/Rifani
Sugik salah satu pedagang beras di Pasar Atas Sarolangun. 

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN - Sejumlah pedagang di Pasar Atas Sarolangun mengaku tak setuju dengan rencana dikenakan pajak sembako.

Walaupun jenis sembako yang dikenakan PPN nantinya hanya bahan sembako bagi golongan ekonomi atas, tetap akan terdampak pada para pedagang sembako.

Pasalnya, saat ini diakui Sugik salah satu pedagang beras mengaku pembeli sembako dari kalangan menengah atas pun membeli beras dengan kualitas yang biasa, bukan dengan kualitas tinggi.

Berpengaruhnya jual beli antar pedangan golongan ekonomi menengah atas pun, dikarenakan dengan berbagai alasan daei efek dari Covid-19, hingga harga sawit maupun karet yang tegolong murah.

"Kalau itu kita tak setuju, sedangkan pembeli kebutuhan pokok tergolong standar. Hanya pada bulan Ramadhan saja yang ramai," kata Sugik saat ditemui di pasar atas," Rabu (16/6/2021).

Sugik menyebutkan, sebelum pandemi para warga membeli beras dalam satu bulan sebanyak 20 kilogram, kini warga membeli dengan sistem secara bertahap. Membeli 10 kilogram terlebih dahulu, lalu baru menambahkan dengan beras ukuran 5 kilogram.

"Biasanya beli sekaligus, untuk saat ini di guyur-guyur dak sekaligus," kata sugik.

Sedangkan harga bahan pokok saat ini, Sugik bilang masih tergolong stabil. Namun untuk minyak curah naik sebesar Rp. 1000.

Untuk harga beras yang paling dominan di beli oleh para masyarakat di Sarolangun, yakni beras merk Sayang dengan harga Rp. 105.000.

"Bisa laku lima belas karung ukuran 10 kilogram dalam satu hari," katanya.

Berbeda, H. Sukiman mengaku dirinya tidak mengetahui akan dikenakan PPN bagi bahan-bahan sembako.

Lanjutnya, untuk saat ini harga beras saat ini tergolong turun dari sebelum, perkarung bisa turun mencapai Rp. 5000.

"Sekarang banyak yang beli beras dengan harga Rp. 9000 perkilogram.

Sukiman menduga dan bertanya, kenapa harga beras bisa turun saat ini, ia menduga kedepan akan ada efek yang akan timbul akibat turunnya harga beras dipasaran.

"Ini mungkin ada efek ini kenapa bisa nurun harganya, pasti ada efek ini," katanya.

Baca juga: Dispora Tanjabbar Sebut Jembatan Wisata Hutan Mangrove Masuk Dalam Anggaran Pemeliharaan

Baca juga: Bupati Muarojambi Beri Dua Solusi Terkait Listrik Kerap Padam di Kecamatan Bahar Group

Baca juga: Daftar Mobi Bekas di Bawah Rp 100 Juta Mulai Tahun 2005 - Audi, Mazda, Daihatsu, Ford, Hyundai

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved