Breaking News:

Berita Internasional

RIBUT-Ribut AS dan China Kembali Memanas, Pejabat Negara Masing-masing Saling Melontarkan Kecaman

Dalam pembicaraan itu, Blinken pun memperbarui tekanan AS terhadap China atas asal mula pandemi yang telah menewaskan lebih dari 3,7 juta orang

Editor: Andreas Eko Prasetyo
GETTY IMAGES via BBC Indonesia
Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan China memburuk, setelah Washington memerintahkan Beijing untuk menutup konsulat mereka di Houston, paling lambat Jumat (24/7/2020) 

Seorang anggota senior Politbiro China, bernama Yang, telah lama memimpin dalam penanganan Beijing terhadap Amerika Serikat.

Dirinya mengecam Washington ketika Biden akan bertemu dengan para pemimpin dari negara-negara G7 lainnya yakni Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang.

"Multilateralisme sejati bukanlah multilateralisme semu yang didasarkan pada kepentingan kalangan kecil," ujar Yang kepada Blinken.

"Satu-satunya multilateralisme sejati adalah yang didasarkan pada prinsip-prinsip piagam PBB dan hukum internasional," ujar Yang.

Presiden China, Xi Jinping
Presiden China, Xi Jinping (instagram: @realxijinping)

Yang juga menuduh AS yang munafik terhadap hak asasi manusia ketika Blinken telah menekan apa yang dianggap Amerika Serikat sebagai genosida terhadap orang Uyghur dan sebagian besar muslim Turki lainnya yang dipenjara di kamp-kamp.

"Amerika Serikat harus menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia serius domestiknya sendiri, dan tidak menggunakan apa yang disebut masalah hak asasi manusia sebagai alasan untuk secara sewenang-wenang mencampuri urusan dalam negeri negara lain," ujarnya.

Blinken pun turut menyuarakan soal peringatan atas meningkatnya tekanan China terhadap Taiwan termasuk penerbangan militer di lepas pantainya.

Blinken juga meminta Beijing untuk menghentikan kampanye tekanannya terhadap Taiwan dan secara damai menyelesaikan masalah lintas-Selat.

Washington pun semakin khawatir pula bahwa China akan berusaha untuk menggunakan kekuatan terhadap Taiwan.

Negara demokrasi yang berpemerintahan sendiri yang dianggapnya sebagai bagian dari wilayahnya, setelah mengekang kebebasan di Hong Kong.

Baca juga: Perintah Soeharto ke Kopassus Untuk Gagalkan Kudeta di Filipina Sukses, Marinir dan Paskhas Siaga

Baca juga: Jadwal Pertandingan Euro 2020 Nanti Malam, Diantaranya Wales Vs Swiss

Baca juga: Promo Tupperware Juni 2021 Diskon Hingga 50% dan Free Gift

(Kontan)

Berita lainnya seputar China

Berita lainnya seputar Amerika Serikat

SUMBER: KONTAN

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved