Begini Nasib Pria Asing yang Berani Tampar Presiden Prancis Emmanuel Macron

Begini nasib pria asing yang nekat tampar Presiden Prancis Emmanuel Macron saat menyapa kerumunan di tenggara Prancis pada Selasa (8/6).

Editor: Heri Prihartono
CHARLES PLATIAU / POOL / AFP
Presiden Prancis Emmanuel Macron 

Macron ingin bertemu dengan para pemilih secara langsung setelah lebih dari satu tahun manajemen krisis selama pandemi Covid-19.

Pada Juli tahun lalu, Macron dan istrinya Brigitte dilaporkan telah dilecehkan secara verbal oleh sekelompok pengunjuk rasa saat berjalan-jalan dadakan melalui taman Tuileries di pusat kota Paris pada Hari Bastille.

Sesaat sebelum ditampar, Macron diminta untuk mengomentari pernyataan pemimpin sayap kiri Jean-Luc Melenchon akhir pekan lalu bahwa pemilihan tahun depan kemungkinan akan dimanipulasi.

"Kehidupan demokrasi membutuhkan ketenangan dan rasa hormat, dari semua orang, politisi, serta warga negara," kata Macron.

Menanggapi peristiwa penamparan ini, para kritikus dan saingan politiknya yang paling sengit mendukung Macron Selasa.

Melenchon mengatakan dia bersamai "dalam solidaritas dengan presiden", sementara Le Pen menyebut tamparan itu "tidak dapat diterima dan sangat tercela dalam demokrasi."

Namun tamparan itu kemungkinan akan memicu perdebatan di Prancis tentang iklim politik yang dinilai merusak hanya dua minggu dari putaran pertama pemilihan regional dan 10 bulan dari pemilihan presiden April mendatang.

Kejadian yang dialami Marcon menginatkan peristiwa tahun 2011, presiden sayap kanan Nicolas Sarkozy mengalami ketakutan keamanan di barat daya Prancis ketika dia dicengkeram bahunya oleh seorang pegawai pemerintah lokal. (Tribunnews.com/ChannelNewsAsia/Hasanah Samhudi)

BACA ARTIKEL LAINNYA DI SINI

SUMBER ARTIKEL : TRIBUNNEWS

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved