Breaking News:

Mengungkap Perdagangan Lada Tempo Dulu di Jambi, dari Abad ke-16 hingga ke-18

Tahun 1720, di dataran tinggi Jambi, masyarakat beralih menanam kapas dan padi. Petani meninggalkan tanaman

Istimewa
Sungai Batanghari Jambi (1893) menjadi jalur distribusi lada tempo dulu Sumber: troppenmuseum, dipotret dari buku Dari Hulu ke Hilir Batanghari: Aktivitas Perdagangan Lada di Jambi Abad XVI-XVIII 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sejak dulu, Indonesia dikenal dengan rempahnya, tidak terkecuali Jambi. Satu di antaranya adalah merica atau lada.

Sekitar abad ke-16 hingga abad ke-18, Jambi pernah menjadi kawasan perdagangan lada yang subur. Konon, dulu, harga lada bisa disamakan dengan emas dan batu permata. Itu sebabnya penjelajah Eropa berbondong-bondong untuk mencari daerah penghasil lada.

Dedi Arman dalam bukunya berjudul 'Dari Hulu ke Hilir Batanghari: Aktivitas Perdagangan Lada di Jambi Abad XVI-XVIII' menjelaskan kondisi perdagangan lada di Jambi saat itu.

Lada berasal dari Ghat Barat, India. Sekitar tahun 600-110 sebelum Masehi, banyak koloni Hindi yang datang ke Jawa.

Mereka itulah yang diperkirakan membawa bibit lada ke Jawa, meski lada dari nusantara telah dikenal sejak awal abad Masehi, namun baru menjadi kemudi komoditi termasyhur pada abad ke-12. Para penjelajah Eropa-lah yang membuat lada Nusantara semakin dicari di seluruh dunia. Sampai akhir Perang Dunia II, 1942, Indonesia adalah wilayah penghasil lada terbesar dan hingga kini Indonesia menjadi produsen lada dunia.

Pada awal kedatangan bangsa Eropa abad ke-16 hingga abad ke-18, ada tiga kawasan penghasil lada: kawasan pesisir sebelah utara pantai barat Sumatra, yaitu di Barus, Singkil, dan Meulaboh; kawasan bagian selatan pesisir barat Sumatra yang meliputi Indrapura, Bengkulu, dan Lampung; dan kawasan bagian tengah dan selatan bagian timur pulau Sumatra, yaitu Aceh, Jambi, dan Palembang.

Di Sumatra budidaya merica dimulai abad ke-15. Pedagang India yang memperkenalkan merica saat bertemu pedagang Sumatra. Tanaman ini begitu menarik, faktornya adalah tidak memerlukan lahan yang subur dan curah hujan lebih dari 2500 milimeter per tahun.

Jaringan pelayaran dan perdagangan rempah di Jambi pada era awal terdiri dari dua bentuk utama, yaitu jaringan hulu dan jaringan hilir. Pada awal abad ke-16, petani lada di Hulu Jambi menjual adanya ke hilir. Dari sana pedagang besar lada mengangkut lada ke pelabuhan yang lebih besar dari Jambi, seperti Palembang, Banten, Gresik, dan Pattani di Semenanjung Malaya. Selama 60 tahun lebih, sebagian besar lada produksi Jambi tak dijual ke hilir Jambi, melainkan dijual ke pelabuhan yang populer di mata pedagang Cina. Dampaknya, aktivitas perdagangan di Jambi masih kurang ramai dibandingkan tetangganya yaitu Palembang.

Kira-kira 60 perahu kecil pergi ke hulu untuk mengumpulkan lada dalam setiap tahunnya. Mereka datang antara akhir Maret dan awal April setelah musim penghujan berakhir. Mereka juga datang setelah menghadiri panen raya yang dilaksanakan bulan Oktober. Sementara, para petani lada dari hulu muncul di pelabuhan Jambi antara November dan Desember.

Lada itu dibawa dengan rakit. Diperkirakan 40.000 hingga 50.000 karung lada dari Jambi. Namun, pengiriman lada sering terganggu karena kesulitan akses geografis antara hulu dan hilir. Penundaan sering berbulan-bulan, karena rakyat hanya bisa melewati sungai dalam kondisi air tinggi. Saat kondisi dangkal, pelayaran dari hulu berhenti setelah melewati Sungai Tembesi.

Halaman
123
Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Nani Rachmaini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved