Senin, 27 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Renungan Kristen

Renungan Harian Kristen - Menyembah Allah Dalam Roh dan Kebenaran

Bacaan ayat: 2 Tawarikh 6:40 (TB) - "Sebab itu, ya Allahku, kiranya mata-Mu terbuka dan telinga-Mu menaruh perhatian kepada doa yang dipanjatkan di

Editor: Suci Rahayu PK
ist
Ilustrasi renungan harian 

Menyembah Allah Dalam Roh dan Kebenaran

Bacaan ayat: 2 Tawarikh 6:40 (TB) - "Sebab itu, ya Allahku, kiranya mata-Mu terbuka dan telinga-Mu menaruh perhatian kepada doa yang dipanjatkan di tempat ini".

Oleh Pdt Feri Nugroho

Pdt Feri Nugroho
Pdt Feri Nugroho (Instagram @ferinugroho77)

Alkitab secara keseluruhan menyajikan dihadapan kita tentang karya Allah yang terjadi dalam sejarah.

Perjumpaan manusia dengan Allah dari masa ke masa tersaji dengan berbagai pergumulan dan konteks yang dinamis.

Dalam perjumpaan tersebut terjadi perjanjian yang terus diperbaharui.

Ada kalanya peristiwa ajaib, tempat tertentu, atau lambang khusus dipakai untuk memperlihatkan kehadiran Allah yang tidak terlihat menjadi terlihat.

Mezbah, korban bakaran, kemah pertemuan, tiang awan dan tiang api, ular tembaga, yang berpuncak pada pembangunan Bait Allah; adalah contoh kongkret bahwa Allah terus hadir menyertai kehidupan umat-Nya.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Menjalani Kehidupan Dalam Ketenangan

Melalui simbol dan tanda tersebut, umat dibawa untuk hidup dalam iman bahwa ada Allah yang tidak terlihat, yang terus berkarya menyertai dan melindungi umat untuk memberikan jaminan bahwa kehidupan mereka akan damai sejahtera.

Menjadi menarik, ketika umat justru fokus pada simbol, maka simbol itu dibiarkan hancur oleh Allah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Contoh yang paling menonjol adalah peristiwa pembangunan Bait Allah.

Rencana pembangunannya telah dimulai sejak Daud bertahta sebagai raja, namun tidak diijinkan oleh Allah.

Meskipun demikian, Daud mempersiapkan material bangunannya dengan berpegang pada janji Allah bahwa anaknya, Salomo, yang akan membangun Bait Allah tersebut.

Peristiwa bersejarah terjadi, setelah berproses beberapa tahun, akhirnya Bait Allah berdiri dengan megah.

Dalam doa nya, terlihat jelas bahwa Salomo tidak sedang bermaksud untuk membatasi kuasa Allah hanya pada tempat tersebut.

Bait Allah dimaksudkan sebagai simbol kehadiran Allah yang bertahta dan berkuasa mutlak atas kehidupan.

Kuasa Allah tetap mengatasi langit dan bumi sebagai ciptaan-Nya.

Meskipun demikian Ia berkenan memakai Bait Allah yang dibangun Salomo sebagai tempat khusus terjadinya ritual sebagai wujud dari komunikasi antara Allah dengan umat-Nya.

Ingat, ketika umat tidak lagi taat, catatan Alkitab memberikan informasi bahwa Bait Allah diijinkan hancur melalui bangsa lain yang mengalahkan kerjaan Israel yang sudah terbelah dua.

Salib adalah simbol. Dua ribu tahun lalu simbol itu dipakai Allah untuk karya penebusan dalam Yesus Kristus.

Hari ini simbol itu seakan melekat dan menjadi identitas diri untuk menyebut seseorang yang beragama Kristen.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Mewarnai Kehidupan Dengan Kasih

Gereja, pada mulanya adalah sekumpulan orang-orang yang membentuk persekutuan karena mereka percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Hari ini, gereja identik dengan gedung yang megah, menjulang tinggi ke langit dengan menara indah. Arsitektur indah menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Persekutuan dua atau tiga orang, dianggap kegagalan, dan ribuan orang dalam gedung olahraga yang di sewa jutaan rupiah: dinilai sebagai tanda keberhasilan penginjilan.

Belajar dari sejarah, ketika umat tidak lagi fokus pada Allah dan mulai pada pencurian kemuliaan Allah, Allah mengijinkan hal tertentu terjadi untuk mendaur ulang iman agar kembali fokus kepada-Nya.

Pandemi covid 19 terjadi. Gedung megah ditinggalkan kosong. Mimbar besar teronggok dalam kebisuan. Salib menjulang hanya dipandang dari jauh.

Ribuan orang bersekutu, terganti dengan dua atau tiga orang berkumpul. Mimbar dan altar besar berganti dalam ukuran sentimeter, tergantung layar alat elektronik yang ada.

Saatnya kembali memberi makna ulang terhadap kehidupan beriman.

Mundur, pasti tidak!! Allah sedang berkarya memperlihatkan kuasa-Nya.

Manusia yang sedang eforia dengan kemajuan teknologi dan mulai abai dengan alam yang harus dipelihara, sedang dipaksa merenung dalam keheningan isolasi.

Kemajuan hebat seperti apapun, pada akhirnya harus tetap tunduk dibawah otoritas Allah.

Mimbar tidak lagi terbatas pada kemegahan gedung, namun menembus dinding-dinding setiap kamar yang selama ini dipagari oleh perbedaan dan aturan.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Kemuliaan Tuhan Adalah Menyembunyikan

Firman Tuhan tersebar dengan cara yang ajaib dan tidak terduga. Banyak orang pada akhirnya mendengar tentang kabar baik tanpa harus beranjak dari ruang penjaranya.

Pembebasan dari dosa terjadi dimana-mana melalui iman kepada Yesus Kristus.

Saatnya kita mengembalikan iman pada yang diimani, bukan kepada simbol.

Bersekutu itu harus, namun bukan untuk kebanggaan diri karena jumlah. Bersekutu harus dalam roh dan kebenaran. Amin

Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved