Kisah Tragis Anak-anak Palestina Tewas Dibom Israel: Itu Benar-benar Kejam
Ketegangan antara Israel dan Palestina akhir-akhir ini dianggap sebagai yang terburuk.
Kami telah membagikan diri kami di sudut berbeda di ruangan yang sama.
Masing-masing dari kami memegang tas, dengan kertas-kertas dan beberapa barang milik kami, saling memandang.
Sekarang kami merasa takut. Ini adalah momen tersulit dan terberat sepanjang hidupku!" tulis Diaa.
Dua jam kemudian, setelah serangan mereda, Diaa Wadi berharap dirinya bisa melihat matahari di pagi hari.
"Bahkan jika kita tidak pernah melihat matahari lagi, kita semua untuk Yerusalem," katanya.
Semua Telah Hancur

Di Beit Hanoun, seluruh area pemukiman dihancurkan oleh serangan udara.
Satu di antara warga Palestina yang tinggal di daerah itu adalah Mohammed al-Zoni.
Ia mengatakan, sebanyak 30 rumah hancur.
Al-Zoni juga menambahkan, berkat pertolongan Tuhan, tidak ada yang terbunuh.
Keluarga dapat melarikan diri segera setelah serangan dimulai.
"Kami sedang duduk di rumah ketika tanpa ada peringatan apa pun, pengeboman dimulai," ujar Al-Zoni.
“Kaca dari jendela menghujani kami. Keluarga saya tinggal dengan kerabat di daerah yang berbeda untuk saat ini, tetapi Israel perlu mengetahui satu hal, dan itu adalah kami akan tetap di sini," tegasnya.
Saat orang-orang di Gaza mulai pulih dari 'mimpi buruk' mereka, beberapa yang lain akan terus mengubur kenangan tentang orang tercinta yang telah meninggalkan mereka.
Seperti yang terjadi Rafat Tanani.