Kisah Tragis Anak-anak Palestina Tewas Dibom Israel: Itu Benar-benar Kejam
Ketegangan antara Israel dan Palestina akhir-akhir ini dianggap sebagai yang terburuk.
Gaza saat diserang Israel
Jonathan mengatakan, serangan itu ditujukan untuk menghancurkan sistem terowongan bawah tanah di Gaza.
Namun, Abedrabbo al-Attar, seorang penduduk Beit Lahia, mengatakan bahwa serangan itu menargetkan warga sipil.
"Kami meninggalkan rumah kami sambil berteriak, setelah rumah (di mana Lamya dan anak-anak lain berada) di sebelah kami dihancurkan," kata Abedrabbo.
"Kami pikir kami semua akan mati. Tidak ada pejuang perlawanan di daerah itu, dan Israel membom segalanya, lebih dari 50 serangan tanpa henti," lanjut ayah enam anak itu.

Abedrabbo mengatakan, keluarganya dan keluarga saudara laki-lakinya berjalan kaki sekitar 8 kilometer sebelum mencapai sekolah UNRWA untuk pengungsi di Palestina, di seberang Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza.
“Anak-anak kami tidur di lantai kosong,” katanya.
"Kami tidak membawa apa-apa, dan kami tidak tahu apakah rumah kami masih berdiri," imbuh pria 40 tahun tersebut.
Lusinan keluarga dari kota-kota utara Gaza juga mengungsi.
Baca juga: Lebanon-Suriah Serang Israel, Markas Militer Dibombardir Rudal Bantu Palestina
Di gedung bernama Abraj al-Nada, para keluarga tidak dapat pergi karena kebakaran hebat dan meminta bantuan Palang Merah.
"Ini adalah perang terburuk yang pernah saya alami dalam hidup saya, dan saya telah melihat beberapa di antaranya. Itu benar-benar kejam," ujar Abedrabbo.
Unggahan Perpisahan
Eskalasi menjelang fajar di Jalur Gaza mengakibatkan banyak warga mengunggah 'perpisahan' mereka di media sosial.
Satu di antaranya adalah Diaa Wadi, seorang penduduk Shujaiyah.
"Halo dunia. Saya dan keluarga saya berada di bawah target pemboman artileri dan pesawat tempur pendudukan Israel.