Mengakhiri Ramadan di Masjid Asyrof, Kisah Kedermawanan dan Kesalihan Orang Mesir
"Barangsiapa yang berbahagia akan datangnya bulan Ramadan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka".
Oleh: Zumratus Sa'adah Julia Misbach
S1 Akidah Filsafat, Universitas Al-Azhar Mesir
SETIAP negara memiliki caranya masing-masing dalam membersamai bulan Ramadan. Begitu pula Mesir yang dijuluki negeri para Nabi.
Kelahiran Nabi Musa di negara ini, tak hanya menjadikan nama Mesir tercantum dalam Alquran, melainkan juga membuat masyarakat Mesir menjadi pribadi yang baik seperti pendahulunya. Meskipun yang menjadi keturunan Firaun juga tetap ada, tapi pada momentum bulan suci ini, saya hanya akan menceritakan kebaikan-kebaikan orang Mesir khususnya saat bulan Ramadan.
Mungkin kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan adalah bentuk implementasi dari hadis Nabi yang berbunyi, "Barangsiapa yang berbahagia akan datangnya bulan Ramadan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka".
Ya, bentuk kebahagiaan mereka adalah dengan cara berlomba-lomba melakukan kebaikan. Kebaikan yang mereka lakukan pun sangat beragam. Baik secara vertikal maupun horizontal. Kebaikan-kebaikan orang Mesir dalam hal sosial sudah banyak sekali ditayangkan di televisi Indonesia. Seperti halnya suguhan berbuka gratis di jalan-jalan yang dikenal dengan sebutan Maidaturrahman. Atau uang bantuan (musa'adah) yang dibagikan secara cuma-cuma dengan nominal yang lumayan banyak sekitar 200-300 pound (1 poun: 700 rupiah). Bahkan ada istilah pemburu musa'adah di kalangan mahasiswa Indonesia, dimana mereka bisa mendapatkan uang berjuta-juta dari hasil pencariannya ke tempat-tempat yang membagikan uang. Seperti masjid, super market, dan juga perusahaan.
Selain mengajarkan ibadah secara sosial dengan totalitas, Mesir juga mengajarkan saya untuk totalitas dalam beramal vertikal. Setiap melewati toko yang ada di Mesir kita akan mendengar murotal Qur'an saling bersaut, di tambah setiap penjaga toko dan orang-orang di dalam bis yang tangannya tidak pernah lepas dari mushaf. Pemandangan seperti inilah yang benar-benar membuat Ramadan seakan hidup di negeri ini.
Tak hanya itu, malam Ramadan menjadi semakin hidup dengan adanya i'tikaf di dalam masjid. Salah satunya adalah Masjid Asyrof yang masih membuka i'tikaf dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada.
Pada malam ke-29 Ramadhan (11/5/2021) pukul 19.00 WLK (Waktu Lokal Kairo), saya dan teman saya pergi salat tarawih ke Masjid Asyrof Muqottom yang terletak di dataran tinggi kota Kairo. Perjalanannya cukup lama, sekira 1 jam yang diakibatkan macet.
Kami melewati batu-batuan yang menjulang tinggi di sepanjang jalan. Sembari menikmati angin segar dari jendela tremko (sebutan angkot di Mesir), saya mengisi energi untuk tidur sejenak supaya kuat menjalani salat tarawih nanti.
Tibalah kami di tempat perhentian jalan masuk menuju Masjid Asyraf, yaitu tepat di depan super market bernama Ragab Sons. Saya dan teman saya mampir ke tempat tersebut untuk membeli bekal selama tarawih hingga sahur nanti. Meskipun di Masjid sudah disediakan makanan untuk sahur dari Syekh dr Yusri Rusydi (Imam Masjid Asyrof) maupun halawiyat (kue manisan) dari ibu-ibu Mesir. Namun kebiasan jajan dan suka ngemil sejak kecil sepertinya agak sulit untuk ditinggalkan di momen-momen begadang seperti ini.
Kami pun tiba di Masjid Asyrof pukul 20.15 WLK. Masjid Asyrof didirikan Syekh dr Yusri Rusydi Sayyid Jabr al-Hasani, tepat di bawah rumahnya. Masjid ini digunakan Syekh Yusri untuk majlis zikir dan mengajar kitab turats kepada para penduduk pribumi Mesir di sekitarnya dan juga para mahasiswa Al Azhar. Beliau menyisihkan waktu untuk mengajar ketika malam dan pagi hari. Pada waktu siang hingga sore hari, beliau bekerja sebagai dokter spesialis bedah di klinik pribadinya yang terletak di dua tempat daerah Muqottom.
Ketika kami tiba di Masjid Asyrof malam itu, tempat salat perempuan sudah tampak penuh dengan shaf yang berjarak. Kami pun masuk masjid dan mengambil air wudhu lalu mencari shaf yang belum terisi. Kami melaksanakan salat Isya hingga terawih sampai pukul 01.00 WLK. Dengan jumlah 20 rakaat untuk salat tarawih saja. Pada 10 rakaat pertama dijeda dengan mengkaji kitab hadis Bahjah an-Nufus ringkasan syarah dari kitab Shohih Bukhori. Kitab tersebut adalah kitab yang dikaji di Masjid Asyrof bersama Syekh Yusri selama Ramadan. Lalu kemudian dilanjut lagi 10 rakaat berikutnya hingga pukul 01.00 WLK yang dilanjut dengan istirahat 30 menit.
Setelah istirahat, kami melanjutkan salat qiyamul lail sebanyak 8 rakaat. Salat ini di mulai sejak malam 21 Ramadan lalu. Syekh Yusri pernah menyampaikan bahwa, "Menyambut malam lailatul qadar yang paling baik adalah dengan salat. Jika tidak bisa salat maka dengan membaca Alquran, jika tidak bisa membaca Alquran maka yang terakhir adalah dengan zikir."
Selain melaksanakan salat sebanyak 31 rakaat (20 tarawih, 8 qiyamul lail, 3 witir) di Masjid Asyrof, kita juga sembari tadarus Alquran sebanyak 7-8 juz sepanjang malam di dalam salat. Dihitung dari bacaan salat magrib hingga subuh. Dengan imam yang bergantian dari murid andalan Syekh Yusri yang bagus dan kuat hapalannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/julia-misbach-saat-bulan-ramadan-1442-hijriah-di-mesir.jpg)